Friday, March 26, 2021

Impermanence - Konsep Ketidakabadian

Di dunia ini, tidak ada sesuatu apapun yang abadi, termasuk Anda dan saya. Segala upaya untuk mempertahankan apa yang tidak abadi agar tetap ada hanyalah sia-sia dan mengakibatkan penderitaan. Ini adalah konsep dasar dari impermanence

filosofi agama buddha tentang impermanens
Impermanence - Sebuah Konsep Ketidakabadian di Alam Semesta


Filosofi ini menyadarkan kita bahwa sewaktu-waktu, kita yang ada atau yang hidup ini bisa menjadi tiada. Oleh karena itu setiap hari yang kita lalui harus kita hadapi dengan sepenuh hati. Contohnya saat kita bekerja untuk mencari nafkah bagi keluarga, kita perlu melakukannya dengan sungguh, memberi pelayanan kepada pelanggan (customer) sebaik mungkin. Konsep hidup seperti ini bisa dibaca dalam berbagai buku yang membahas tentang zen. Saya tidak akan menuliskannya secara panjang lebar di tulisan ini.

Segala sesuatu di dunia ini saling terkait satu sama lainnya. Contohnya: Matahari bersinar, sinar itu sampai ke permukaan bumi, sinar itu memberi kehidupan bagi tumbuhan, hewan dan manusia. Tumbuhan melakukan foto sintesis dengan memanfaatkan sinar matahari dan melepaskan oksigen ke udara. Kita semua memerlukan oksigen untuk hidup. Pada saat yang sama, sinar matahari terpancar juga ke bulan yang selanjutnya memantulkan cahayanya ke bumi. Cahaya bulan itu dimanfaatkan manusia ketika sedang berjalan di malam hari. Bulan sering menjadi acuan dalam berlayar, atau dalam berbagai penanggalan manusia. Cahaya bulan yang lembut memberikan ketenangan hati pada manusia yang sedang dirundung banyak persoalan hidup. Memandang cahaya bulan dapat membuat orang yang kesulitan tidur, akhirnya bisa tidur nyenyak. Bulan purnama menjadi tanda air pasang yang tinggi di lautan. Meskipun filosofi impermanens menyatakan bahwa tidak ada sesuatu apapun yang abadi di dunia ini (termasuk lingkungan hidup dengan segala kekayaan keanekaragaman hayatinya), bukan berarti ini merupakan pembenaran kita boleh mengeksploitasi apa saja, merusak atau menghancurkan alam, demi memperkaya diri kita secara materi. Ini namanya serakah, rakus, egois.

Karena segala sesuatu di bumi ini saling terkait maka kita perlu menjaga keseimbangannya. Manusia dengan segala pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya bisa memanfaatkan hewan dan tumbuhan serta material di alam untuk memenuhi kebutuhannya. Kemampuan iptek dan kekuatan yang dimiliki haruslah bersamaan dengan tanggung jawab yang dimilikinya untuk menjaga keharmonisan hubungannya dengan alam semesta. Eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan tanpa adanya tanggung jawab untuk melestarikan lingkungan hidup akan mengakibatkan kerusakan lingkungan serta bencana alam.

Oleh karena itu, konsep impermanence yang kita pahami di atas tetap menjadi landasan berpikir kita untuk tetap mempertahankan keharmonisan hubungan kita dengan alam semesta tempat kita berada. Oleh Charles Roring🙏


No comments:

Post a Comment

Olive-backed Sunbird in Minahasa Highland

Male Olive-backed Sunbird After guiding tourists across Sulawesi, Ternate and Halmahera islands, I decided to go back to Minahasa for a 5-da...