Translate

Liburan Murah Meriah di Raja Ampat

Liburan ke Raja Ampat
Sebuah Pantai di Kepulauan Misool
Banyak orang yang ingin sekali pergi ke Raja Ampat - kawasan wisata bahari yang terpopuler di Indonesia. Tapi saat mereka melihat betapa besar biaya yang harus dihabiskan untuk ke sana maka kebanyakan calon pelancong tersebut mengurungkan niat liburan mereka. Bila kita melihat berbagai paket tur yang ditawarkan oleh sejumlah agen perjalanan wisata di internet maka harga yang ditawarkan tergolong mahal. Mulai dari 7 juta hingga 30 juta/orang/minggu. Harga tur begitu tinggi disebabkan oleh mahalnya biaya transportasi. Oleh karena itu, masih sedikit sekali wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Kepulauan Raja Ampat. Raja Ampat pertama kali dipopulerkan oleh para pencinta olah raga selam dari luar negeri yang kebanyakan memilih naik kapal-kapal liveaboard.

Tapi jangan kuatir. Saya pribadi sudah pernah pergi ke Raja Ampat dengan biaya yang sangat murah. Caranya mudah saja. Bila Anda tinggal di Pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa atau Sulawesi, berangkatlah ke kota Sorong dengan naik kapal PELNI. Setelah itu, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Waisai (ibukota Kabupaten Raja Ampat) dengan naik kapal cepat. Bilang saja ke tukang ojek untuk mengantar Anda ke Pelabuhan Rakyat. Harga tiket dari Sorong ke Waisai antara Rp. 120.000 hingga Rp. 200,000 tergantung kecepatannya. Ada beberapa buah hotel di kota Waisai dengan kisaran harga dari Rp. 350,000 hingga Rp. 500,000 per malam.
Wisata Raja Ampat

Sewaktu saya berada di Waisai, saya tidak tinggal di hotel melainkan di Mess Departemen Kehutanan bersama-sama dengan beberapa mahasiswa jurusan Geologi dari Universitas Papua yang hendak melakukan Kerja Praktek Lapangan di Raja Ampat. Oleh karena itu saya tidak mengeluarkan biaya sepeserpun untuk penginapan.
Wisata ke Papua Barat
Kapal Sabuk Nusantara berlabuh di Harapan Jaya
Sangat saya sarankan agar para pelancong yang ingin mengunjungi Kepulauan Wayag supaya berangkat ke Raja Ampat dalam rombongan berjumlah 5 hingga 10 orang guna menekan biaya sewa perahu motor ke daerah itu. Bila biaya sewa perahu motor sebesar 4 juta rupiah ditanggung bersama maka harganya akan menjadi lebih murah.
Cara murah lainnya untuk mengelilingi Waisai adalah dengan naik sepeda. Sayang sekali, hingga saat ini belum ada bisnis persewaan sepeda di Waisai. Mungkin Anda tertarik untuk pindah ke sana dan membuka usaha itu. Jika memungkinkan bawalah sepeda saat Anda hendak berangkat. Berkeliling kota Sorong dan Waisai dengan naik sepeda akan sangat mengurangi biaya perjalanan Anda. Memang Anda akan mengalami sedikit kerepotan saat mengangkutnya ke kapal atau pesawat. Bukankah saat ini sudah ada sepeda lipat? Alternatif lainnya, adalah mencoba menyewa sepeda di kota Sorong untuk dibawa ke Waisai dengan kapal cepat. 
Selain Pulau Waigeo dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, destinasi wisata penting di Kabupaten Raja Ampat adalah Kepulauan Misool. Untuk berkunjung ke Kepulauan Misool, Anda bisa naik kapal Sabuk Nusantara dari Pelabuhan Sorong ke Kampung Harapan Jaya. Harga tiketnya sekitar Rp. 30,000 (ya, cuma tiga puluh ribu rupiah). Murah kan? Bawalah peralatan snorkeling dan kamera bawah air jika Anda ingin menikmati pemandangan laut yang begitu memukau di daerah itu.
Sebelum ke Kampung Harapan Jaya, jangan lupa membeli biskuit, baterai ekstra untuk kamera serta perlengkapan lainnya di kota Sorong. Sediakan waktu minimal 1 sampai 2 minggu untuk perjalanan Anda di Kabupaten Raja Ampat. oleh Charles Roring
Baca juga:

Birdwatching in Manokwari

Birdwatching and wildlife tour in West Papua of Indonesia
Blyth's hornbill
Manokwari is a nice destination for visitors who are interested in hiking and watching birds in the rainforest. There are regular flights between Manokwari and Jakarta (the capital of Indonesia served by such airlines as Sriwijaya, Lion/Wings, Batik Air and Garuda. Birders usually go to Arfak mountains to watch paradise birds or do night walk to see fireflies, glowing mushrooms and cuscus possum.

Susnguakti Forest

Birding tour in Arfak mountains of Manokwari
King Bird of Paradise in Arfak mountains
There is a forest in the eastern region of Arfak mountains where visitors can enjoy hiking to watch several species of tropical birds such as Lesser Birds of Paradise (Paradisaea minor), King Bird of Paradise (Cicinnurus regius), Magnificent Riflebird (Ptiloris magnificus), Common Paradise Kingfisher (Tanysiptera galatea), Great Cuckoo Dove, Beautiful Fruit Dove, Rufous-bellied Kookaburra, Brown Oriole, and Coconut Lorikeet and a lot of other birds that are endemic to Arfak range.  Lesser Birds of Paradise usually dance in the mornings and in the afternoons in the rainforest near basecamp that we have built for tourists. Birders need to walk up steep slopes to reach it. So, only birders who are physically fit that can go to the place. They must wear good sport shoes or trekking boots and bring binoculars. We have prepared mattrasses, pillows, cooking and eating utensils for tourists who want to spend several days exploring the bio-diversity of animals and plants in this forest. Besides watching birds of paradise, other interesting attraction is watching cuscus and exploring the jungle itself at night. The tropical rainforest is home to various species of plants, and animals, including mushrooms that glow at nights, orchids, bamboos and a lot of insects.

Mesirrokow Forest

French tourists were enjoying riverwalk, camping and birdwatching tour in Manokwari
Birding and riverwalk in Mesirrokow forest in Manokwari
In addition to Mesirrokow as one of the best birding sites in the bird's head region of West Papua, the most recommended site for hiking and birdwatching in Vogelkop region is Mesirrokow forest. Located in lowland region, Mesirrokow is only one hour car trip from Manokwari. In addition to hiking and birdwatching, another activity that tourists can enjoy in Mesirrokow is swimming in the river.

Miyah forest

Another important birdwatching destination in West Papua is Miyah forest. Located in Tambrauw mountains, it is considered one of the most important birding sites in the world. This may sound subjective but Miyah forest is a must see place for birdwatchers who really want to see a lot of birds that are endemic to New Guinea.
As a tourist guide, I offer birding tours for nature lovers who want to watch birds in Miyah. From my previous trips, I saw Lesser Birds of Paradise, Pinon Imperial Pigeon, Blyth's Hornbill, Palm Cockatoo, and many other birds that I cannot mention their names one by one in this post.
Visitors can go by 4WD pick up truck and continue their trip on foot to the forest. It will take a half day to reach Miyah. Tents and camping gear are needed if they want to stay in the jungle for a few nights. Since electricity is not always available in the forest, visitors need to bring some extra batteries for their cameras.
This was written by Charles Roring

Watercolor Painting of Gereja Lahai Roi

Here is the painting of Gereja Lahai Roi. Gereja means church. The church is located in Mansinam, a small island in Manokwari regency of West Papua. Mansinam was the first place in New Guinea that received European missionaries on 5 February 1855 who went there to preach Gospel. Every year tens of thousands of town dwellers of Manokwari, together with pilgrims from all corners of the world, come to Mansinam to celebrate the Gospel Preaching Day. Some intellectuals consider that day as the beginning of modern civilization of Papuan people. I used Staedler 2B graphite pencil to sketch the landscape before coloring it using Fabercastel and Derwent watercolour pencils. For me, creating fine lines for the details of coconut trees and the building of the church is much easier if it is carried out by pencil dan wet brush.
Pulau Mansinam, Manokwari
Gereja Lahai Roi di Pulau Mansinam, Manokwari
Today, I have decided to spend more time painting the landscape, and wildlife of West Papua to create awareness among the city dwellers of Manokwari and the people of Indonesia that it is important to preserve our nature. If you are interested in watercolor painting then you need to practice sketching and painting now. Try to read books about how to paint in watercolour. 

Watercolor Painting of Dolphins

I created this watercolor painting of Dolphins when I was still living in Malang city. Now I live in Manokwari city in the eastern region of Indonesia. So, I am closer to nature here. Every time I travel to Numfor island by ferry, I always see dolphins coming out of the blue sea water. It's an amazing experience for me. I can feel the emotion and the energy that flow inside my body and mind while watching the dolphins at sea. This artwork is now in the Netherlands. A woman named Grietje owns it. I have seen dolphins many times since I was a university student. I work as a freelance tourist guide. I accompany visitors to Numfor island in Geelvink bay where we can enjoy snorkeling over pristine coral reef. I also enjoy hiking in the jungle. That's why most of my artworks are related to wildlife.
Colored pencil drawing of The Sea
My watercolor painting of Two Dolphins Swimming in the Middle of the Sea
I have uploaded the digitized version of the painting into my zazzle store. You can order the canvas print version of the painting on the link below the following picture:

This artwork was created using watercolour pencils. The quality of a drawing or painting is not only determined by the experience of the artist but also the quality of the materials. High quality paper will help an artist to make detailed strokes on his or her artwork. So, when you are interested in creating a watercolor artwork, don't forget to choose fine quality paper such as the cold press paper manufactured by Canson, and watercolors (my recommendation will be Derwent 72 Watercolor Pencil Metal Tin Set. Happy sketching and painting. This was written by Charles Roring

Jalan-jalan di Seram dan Ambon sambil mengenang Rumphius

Seram Timur
Sawah di Seram Bagian Timur
Beberapa waktu lalu saya melakukan perjalanan melintasi Pulau Seram dari Bula hingga ke Waipirit. Perjalanan yang singkat ini meninggalkan kenangan indah, kebahagiaan tetapi juga keprihatinan yang mendalam.
Konversi Hutan Hujan menjadi Daerah Pertanian
Kabupaten Bula di sebelah timur Pulau Seram memiliki dataran yang cukup luas sehingga cocok untuk dijadikan sebagai daerah pertanian. Walaupun hamparan sawah di kedua sisi jalan menyuguhkan pemandangan yang memukau, secara pribadi saya kuatir bahwa daerah itu dulunya adalah tempat bertumbuhnya pohon-pohon sagu (Metroxylon rumphii) yang menjadi makanan pokok masyarakat Maluku dan Papua di daerah pesisir. Begitu pula dengan daerah perkebunan kelapa sawit yang baru saja dibuka. Hal ini semakin memperkecil luas hutan hujan tropis di Seram Timur.

Taman Nasional Manusela - pabrik spesies
Kebetulan saja bus yang saya tumpangi melewati kawasan Taman Nasional Manusela. Sopir busnya cukup berpengalaman. Tanjakan panjang di Manusela bisa dilalui dengan lancar meskipun kecepatan bus agak pelan. Hutan hujan tropis Pulau Seram yang kaya dengan ribuan spesies tumbuhan dan hewan bisa saya saksikan secara sepintas sambil duduk di dalam bus yang membawa saya ke Pulau Ambon.
Pada umumnya orang melihat hutan sebagai sesuatu yang menyeramkan. Tapi bagi para petualang dan pencinta alam, hutan adalah sahabat sejati yang perlu dipelihara dan dilindungi. Hutan di Pulau Seram memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi sekali. Ada ratusan spesies burung termasuk beberapa di antaranya yang terancam punah seperti luri kepala hitam (Lorius domicella) dan maleo (Eulipoa walacei).
Kasturi Tengkuk Ungu dari Pulau Seram
Purple-naped Lory
Naturalis Georg Eberhard Rumphius
Semasa masih mahasiswa, saya tinggal di sebuah asrama yang bernama Rumphius di kawasan Poka, Pulau Ambon. Ini adalah sebuah asrama mahasiswa Katholik. Nama asrama itu tidak diambil dari nama santo-santa seperti yang umumnya dikenal oleh Gereja. Sebaliknya nama tersebut merupakan nama seorang naturalis Jerman, George Eberhard Rumphius, yang pernah melakukan penelitian terhadap tumbuh-tumbuhan, dan hewan yang ada di Ambon antara tahun 1657 hingga 1702. Dan dia adalah seorang Protestan (hal ini saya ketahui setelah menonton 5 video wawancara antara Lynn Margulis dengan alm. Prof. E.M. Beekman tentang buku Ambonese Herbal yang diterjemahkan dari buku karya Rumphius yakni  Herbarium Amboinense).
Jujur saja, ketika itu saya tidak memiliki informasi apa pun tentang Rumphius. Pernah, saya mencoba mencari tahu siapa itu Rumphius dengan membuka World Encyclopedia yang ada di perpustakaan asrama tapi tidak menemukan apa-apa. Ensiklopedi tua terbitan Amerika Serikat sekitar tahun 1945 tersebut tidak menyebutkan nama Rumphius dalam indeks G, E atau pun R. 
Sekarang dengan adanya internet, informasi tentang Rumphius mulai terkuak. Minggu lalu senior saya, Rudi Fofid menggagas pembentukan Komunitas Rumphius di kota Ambon. Hal ini diumumkan di Facebook, sejumlah website dan beberapa surat kabar tentang Maluku. Rasa keingintahuan saya tentang Rumphius muncul lagi setelah membaca berita itu. Meskipun apa yang saya ketahui tentang Rumphius masih tergolong minim sekali, saya mulai menyadari bahwa karya-karya Rumphius begitu erat kaitannya dengan alam Maluku. Dia mencatat ribuan spesies tumbuhan dengan kegunaannya baik dari segi medis maupun ekonomis. Informasi ini sungguh berharga tidak hanya bagi VOC yang berdagang di Maluku ketika itu tetapi juga bagi kita semua yang hidup di zaman modern ini. Pengetahuan pengobatan tradisional yang dicatatnya dari para herbalis Maluku pada abad ke-17 tersebut, kini bisa kita pelajari lagi berkat buku Herbarium Amboinense.
Dari menonton 5 video tentang Rumphius di Youtube, ada beberapa hal baru yang mengejutkan saya, antara lain:
  1. Alfred Russel Wallace yang menjelajah nusantara dan menulis buku The Malay Archipelago, tidak pernah menyebut nama Rumphius. Kemungkinan besar Wallace tidak memiliki akses terhadap karya-karya Rumphius.
  2. Georg Eberhard Rumpf adalah seorang ilmuan yang juga peka dengan kondisi sosial masyarakat Maluku. Pakar sejarah tentang Rumphius, yakni Prof. E.M. Beekman menyebutkan bahwa Rumphius membela masyarakat lokal dengan berani mengritik kebijakan VOC tentang perbudakan. Hal sensitif ini beserta dengan informasi penting mengenai manfaat medis tumbuh-tumbuhan (yang penting bagi monopoli dagang VOC) yang ditulisnya dalam Herbarium Amboinense bisa jadi merupakan alasan utama perusahaan dagang Belanda tersebut untuk tidak menerbitkannya.
  3. Ketika manuscript Herbarium Amboinense tiba di Belanda, buku itu kemudian berpindah tangan ke seorang ahli botani yang bernama Johannes Burman. Karena ia adalah seorang intelektual yang kaya dan berpengaruh di Belanda maka ia bisa memperoleh manuscript tersebut dari tangan VOC. Pada tahun 1735, Carl Linnaeus berkunjung ke Belanda dan tinggal beberapa waktu lamanya di rumah Prof. Burman. Oleh karena itu Carl Linnaeus bisa memperoleh akses terhadap manuscript Herbarium Amboinense. Beekman mengatakan bahwa Carl Linnaeus mencatat (baca: menyontek) banyak sekali spesies tumbuhan yang telah dikumpulkan dan diidentifikasi oleh Rumphius. Catatan tersebut selanjutnya dijadikan acuan bagi Linnaeus untuk mengembangkan sistem klasifikasi serta tata nama hewan dan tumbuhan yang dewasa ini lebih dikenal dengan istilah taksonomi. Sayang sekali Linnaeus tidak menyebutkan Rumphius dalam karya-karyanya.
Pada 19 September 2011, karya Rumphius yang ditulis memakai bahasa Belanda tua dan Latin akhirnya diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh Yale University Press dengan judul The Ambonese Herbal berjumlah 6 volume. Buku ini mendapat Penghargaan Literatur 2012 dari Council on Botanical and Horticultural Libraries untuk kategori teknis.
Penghargaan itu sekali lagi menempatkan posisi Rumphius sebagai ilmuan penting yang patut dihormati oleh masyarakat intelektual dunia sekaligus memberi appresiasi yang tinggi terhadap alam Maluku yang kaya dengan spesies hewan dan tumbuh-tumbuhan. Jadi sudah sewajarnya jika kita semua bekerja keras untuk melestarikannya buat generasi sekarang maupun yang akan datang.
Pelestarian flora dan fauna di Pulau Ambon memang sangat mendesak. Menurut Prof. Beekman separuh dari tumbuh-tumbuhan yang digambarkan oleh Rumphius dalam buku Herbarium Amboinense itu telah punah sebagai akibat dari konversi lahan hutan menjadi daerah pemukiman. Pulau Ambon yang kecil tersebut tidak memiliki tanah datar yang luas.
Lalu lintas di Ambon
Kota Ambon
Catatan ringkas tentang Rumphius yang disajikan di atas sengaja saya buat untuk mengenang jasa-jasa Georg Eberhard Rumphius terhadap pengembangan ilmu pengetahuan alam. Bila suatu saat Anda berkunjung ke Ambon, jangan lupa mampir di Perpustakaan Rumphius yang terletak di dekat Gereja Katedral St. Fransiskus Xaverius atau bertemu dengan para pencinta alam dari Komunitas Rumphius. 
Saya tinggal beberapa hari lamanya di Studio Radio Menamoria. Sebuah radio komunitas yang bertujuan untuk memupuk rasa persaudaraan dan persatuan di kalangan orang Maluku yang di tahun 1999 hingga 2002 mengalami penderitaan yang luar biasa beratnya sebagai akibat dari konflik sektarian.
Kini Maluku telah menikmati kedamaian dan masyarakatnya tengah berjuang untuk membangun lagi daerahnya. Saya senang melihat berbagai perkembangan positif di sana tapi juga berharap bahwa kota yang indah ini tetap ramah terhadap lingkungan.
DitulisoDitulis Charles Roring
Referens:
  • Video percakapan antara alm. Prof E.M. Beekman dan Lynn Margulis tentang Ambonese Herbal di http://www.youtube.com/watch?v=8hQGk31uW78 (dan empat seri video lanjutannya)
  • Tiiu Kull and Joseph Arditti; Orchid Biology: Reviews and Perspectives, VIII; Kluwer Academic Publishers 2002
  • Wikipedia

Birdwatching in Arfak mountains

Burung Surga Papua
Male Lesser Birds of Paradise in Susnguakti Forest
The mountain range of Arfak is located in the south of Manokwari city. It is a popular destination for watching various species of paradise birds and other tropical birds that are endemic to rainforest of New Guinea. There is a birding and wildlife watching site that I highly recommend for birdwatchers. Its name is Susnguakti forest (located in the eastern side of the mountains).
As a tourist guide, I have organized numerous tours to this forest for visitors who come from European countries such as Sweden, Poland, the Netherlands, United Kingdom, Belgium, Germany, Spain, and Switzerland.
There are also tourists who come from the United States, South Korea, China, and Australia. Some Indonesian tourists visited this forest too.
Most of them went to Susnguakti forest to watch paradise birds during the day and cuscus possum at night. The location of Susnguakti forest is approximately at around 400 to 700 meters above sea level. Visitors who go there need to walk up steep slopes of Arfak range to reach it.

Hiking, Birding and Camping

Hutan Susnguakti di Manokwari
Jungle hut for tourists
Susnguakti forest is a great place for watching lower montane forest birds such as Lesser Birds of Paradise, King Bird of Paradise, Hooded Butcherbird,  Common Paradise Kingfisher,  Beautiful Fruit Dove,  Rufous-bellied Kookaburra and Coconut Lorikeet and a lot more.
The birds of paradise can be watched early in the mornings and late afternoons. The birding sites are within the walking distance from our basecamp approximately 10 to 15 minutes. I and local villagers have built huts for tourists who want to stay for several days in the jungle watching birds, and other animals.

Birding Binoculars

Birdwatching device
Swarovski SLC 10×42 WB binoculars
Because birds of paradise like to dance or perch on high trees, visitors need to use a good pair of binoculars to watch them. There are a lot of birding binoculars that are available on the market. The ones that produce sharp images are Swarovski EL 8.5×42 and the multi purpose Swarovski SLC 10×42 WB. There is also Canon 15×50 IS UD binoculars that are powered by image stabilizer technology. Binoculars that are made of high quality materials such as Extra-low Dispersion Lenses and Bak4 prisms glasses will produce sharp and rich color images of birds, butterflies, wild flowers and anything in the jungle. 

Burung Surga di Papua

Wisata Nonton Burung di Papua Barat
Cendrawasih Kuning Kecil
Burung surga adalah ikon Papua - pulau tropis terbesar di dunia. Burung-burung itu hidup di hutan hujan tropis yang saat ini habitat alaminya sedang dirusak lewat penebangan pohon berskala besar. Naiknya harga bahan bakar telah memicu terjadinya pencarian bahan bakar alternatif selain petroleum. Ketika minyak sawit dipercaya bisa menjadi bahan bakar alternatif bagi mesin diesel yang menggerakkan mobil dan truk, perkebunan monokultur kelapa sawit saat ini sedang dibuka di Papua Barat dan Papua New Guinea. Dengan persetujuan pemerintah daerah, puluhan ribu hektar hutan hujan tropis kemudian ditebang bagi pengembangan perkebunan kelapa sawit. Hutan hujan tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati semakin menciut setiap menitnya.

Burung Cendrawasih Kuning
Burung Cendrawasih Kuning Kecil di
Hutan Susnguakti Manokwari
Burung surga atau burung cendrawasih sudah diburu sejak ratusan tahun yang lalu. Burung-burung itu diperdagangkan baik dalam keadaan hidup ataupun mati kepada para kolektor yang senang menggantungnya di dinding rumah mereka atau menaruhnya di dalam kotak kaca.
Tur pengamatan burung adalah sebuah skema pembangkitan pendapatan alternatif yang saya coba perkenalkan bagi penduduk lokal di Kabupaten Manokwari pada saat ini. Para pengamat burung dari Eropa dan Amerika Serikat datang untuk menonton burung surga di habitat alami mereka. Ada tiga lokasi di kabupaten ini yang menjadi tempat tujuan para wisatawan yang ingin menonton burung-burung surga.
Ekowisata di Papua Barat
Hutan Kali Dopi di Manokwari
Tempat-tempat itu adalah Camp Susnguakti, Camp Dopi di Manokwari,  dan Kampung Ayapokiar di Pegunungan Tambrauw. Yang terdekat dengan kota Manokwari adalah Camp Dopi. Para pengamat burung yang ingin melihat burung surga di camp tersebut harus berjalan menembus hutan belantara selama 3 jam untuk mencapai tempat pengamatan burung. Saya sengaja tidak menaruh koordinat GPS tempat tersebut di website ini untuk mencegah para pemburu datang ke hutan dan menembak burung-burung tersebut.
Jika Anda tertarik untuk mengamati burung surga di hutan Manokwari, silahkan menghubungi saya lewat email: peace4wp@gmail.com.Untuk menekan biaya perjalanan, datanglah dalam 1 kelompok yang beranggotakan 2 hingga 10 orang. Jangan lupa membawa peralatan pengamatan burung seperti teropong (kijker), digiscope, atau telephoto camera.
Catatan tambahan:
Pada umumnya para pengamat burung yang berpengalaman menggunakan digiscoping system. Selain harganya yang relatif lebih terjangkau dibandingkan dengan kamera D-SLR, kemampuan digiscope dalam memotret subyek burung yang ada di pepohonan yang tinggi sangatlah bagus. Oleh karena itu, saya merekomendasikan agar Anda membeli peralatan digiscoping yang baik. Ditulis oleh Charles Roring

Jalan-jalan di Manokwari Papua Barat

Burung Cendrawasih Kuning
Lesser Birds of Paradise
Manokwari adalah ibu kota Provinsi Papua Barat. Tidak banyak yang tahu kalau Manokwari memiliki sejumlah tempat menarik yang bisa dikunjungi wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. Berikut ini adalah beberapa destinasi wisata alam yang dimiliki oleh Manokwari:
Pulau Mansinam - Selain terkenal sebagai destinasi wisata rohani, pulau tersebut selama beberapa tahun terakhir ini secara teratur dikunjungi oleh kapal-kapal diving Phinisi. Di dalam kapal tersebut ada puluhan scuba diver yang ingin melihat dunia bawah laut yang ada di sekitar pulau itu. Sewaktu Perang Dunia ke-2 berkecamuk di lautan Pasifik, Manokwari yang dulunya adalah basis pertahanan Jepang kerap dibom oleh pesawat-pesawat Amerika. 
Beberapa buah kapal milik Jepang yang sedang berlabuh di dalam Teluk Doreh ditenggelamkan dengan torpedo dan bom. Kini, para penyelam suka melihat kapal-kapal karam di sekitar Pulau Mansinam tersebut.


Gugusan terumbu karang memanjang di sebelah tenggara dan selatan pulau dengan kedalaman antara 1 meter hingga 30 meter. Oleh karena itu daerah ini cocok bagi para snorkeler ataupun scuba diver.
Ekowisata di Manokwari
Pantai di Pulau Mansinam

Snorkeling di Papua Barat
Terumbu karang dan ikan damsel
Camp Dopi - Terletak kurang lebih 2 jam berjalan kaki ke arah barat dari kota Manokwari, Camp Dopi merupakan daerah tujuan wisata bagi para pencinta alam. Hutan yang tumbuh sepanjang Sungai Dopi adalah habitat alami berbagai jenis hewan seperti rusa, kuskus, kanguru dan burung-burung tropis. Camp Dopi sengaja dibuat untuk para wisatawan yang ingin hiking dan birdwatching. Tidak banyak orang yang tahu tentang keberadaan camp ini. Namun demikian, Camp Dopi telah dikunjungi oleh birdwatchers dari Eropa dan Amerika. Burung rangkong, kakaktua, dan kumkum selalu terbang di daerah itu. Saat terbaik untuk menonton burung Cendrawasih (paradisaea minor) adalah di pagi dan di sore hari. Jangan lupa membawa kamera digital telephoto atau digiscope jika Anda ingin menonton burung-burung surga jantan berdansa dan memamerkan bulu mereka yang indah untuk merayu para betina.

Wisata Nonton Burung di Papua Barat
Sungai Dopi
Sungai Asai - Pantai utara Manokwari menyuguhkan pemandangan lautan biru Pasifik. Jalan aspal yang mulus adalah tempat yang ideal bagi para pencinta olah raga sepeda. Di samping itu, daerah aliran sungai Asai sering dijadikan rute hiking bagi wisatawa asing yang datang dari Belanda, Inggris dan tetangga kita - Thailand. Bebatuan koral berukuran besar menjadi saksi sejarah bahwa dulu dataran tersebut berada di bawah laut. Pohon-pohon besar yang tumbuh di kedua sisi sungai tersebut menjadi penopang utama ekosistem hutan hujan tropis Papua Barat. Jangan lupa membawa makanan secukupnya jika Anda ingin hiking di Sungai Asai.
Teluk Doreri Manokwari
Pegunungan Arfak
Pegunungan Arfak - meskipun ditaruh dalam point terakhir, destinasi ini merupakan destinasi utama wisata alam di Manokwari. Anda bisa hiking dari Mokwam hingga Anggi atau mendaki Gunung Susnguakti  untuk melihat burung Cendrawasih dan Kuskus.
Daerah pesisir pantai Pegunungan Arfak juga merupakan destinasi wisata bahari yang tidak kalah keindahannya dibanding daerah-daerah lain. Terumbu karang yang berwarna-warni dan berbagai jenis ikan tropis bisa dilihat dengan memakai snorkeling mask. Beberapa waktu yang lalu, saya pernah membawa sejumlah wisatawan untuk snorkeling di kawasan pesisir pantai dari Pegunungan Arfak. Foto-foto bawah air yang mereka buat merupakan bukti bahwa Manokwari memiliki taman laut yang indah dan cocok untuk dijadikan sebagai daerah tujuan wisata bahari.
Terumbu karang Manokwari
Terumbu karang di kaki Pegunungan Arfak
Nah, jika Anda sedang berencana untuk mengambil liburan di akhir tahun ini, pertimbangkanlah Manokwari sebagai tujuan berikutnya. Setiap destinasi yang saya sebutkan di atas akan saya rincikan lagi di masa yang akan datang ketika saya bercerita tentang jalan-jalan di Papua dalam blog ini lagi. oleh Charles Roring

Lesser Birds of Paradise

This is perhaps the most sought after birds in the world. People have hunted the Lesser Birds of Paradise (Paradisaea minor) since hundreds of years ago. Because of the continuous hunting, it is now facing extinction in several parts of New Guinea or West Papua forest. In 1980s, they could still be seen in the jungle of Table Mountain near Manokwari town. Today, I cannot see or watch the birds in that jungle anymore. Although Table Mountain is protected by the Department of Forestry of the Indonesian government, it is facing constant destruction from the town dwellers. Hunters carrying air guns like to go into the jungle of the mountain to shoot cuscus, soa-soa (monitor lizards) and birds.
Susnguakti Forest
Male Lesser Birds of Paradise (Paradisaea minor)  in Arfak mountains
Paradise bird in Susnguakti forest
of Manokwari
After searching the birds since 2010, finally, I was able to find their dancing site located in the territory of Susnguakti forest. It is a 1-hour ride from Manokwari town. There are four or five trees that have been chosen by the birds of paradise as the place where they perform courtship dance in the mornings and in the afternoons just before sunset. The trees stand on a hill with steep slope. I've got a blurred photograph of the male that I shot using Nikon Coolpix P500. I hope that I can make better pictures in the future. As a nature lover and eco-tourism enthusiast, I try to protect the area by offering birdwatching tours to tourists who want to watch birds of paradise. I hope that this environmentally friendly eco-tourism scheme will help local Papuan villagers generate alternative income that can replace their present livelihood.
Birds and Wild Animals
King Bird of Paradise (Cicinnurus regius) in Arfak mountains of Manokwari
King Bird of Paradise
In addition to the Lesser Birds of Paradise, Susnguakti forest is also the natural habitat of King Bird of Paradise, Magnificent Riflebird, Hooded Butcherbird, Rufous-bellied Kookaburra, Coconut Lorikeet, Beautiful Fruit Dove, Common Paradise Kingfisher, Papuan Frogmouth.
Animals such as snakes, soa-soa monitor lizard, large ground brown skink, Papua Dragon Tree Lizard, blue-tailed lizard, Cruiser Butterfly (Vindula arsinoe), the Silky Owl Buterfly (Taenaris catops), Swallow tail blue mountain butterfly (Papilio ulysses) butterflies, beetles and fireflies can also be found in this forest.
A lot of species of plants in the jungle of this Arfak mountains including bamboos, big trees, orchids, and glowing mushrooms.

Destinasi Pengamatan Burung Terbaik di Papua Barat

Saya telah memandu banyak pencinta alam dalam berbagai perjalanan hiking dan pengamatan burung di Papua Barat selama beberapa tahun terakhir ini. Dalam penjelajahan tersebut, saya telah melihat bermacam species endemik Papua.
Turis Prancis di Tambrauw
Wisatawan Prancis di Pegunungan Tambrauw
Foto: Charles Roring
Bukit Aiwatar situs pengamatan burung terbaik di Papua Barat
Dari ratusan perjalanan pengamatan burung yang telah saya lakukan, saya bisa mengatakan bahwa spot pengamatan terbaik adalah Bukit Aiwatar di Kampung Senopi. Saya mengunjungi daerah itu bersama dengan Wim dan Vicky Boyden, dua wisatawan Belgia yang menikmati penjelajahan hutan dan pengamatan satwa liar selama satu minggu di Senopi. Pendapat ini mungkin terkesan subyektif tetapi itulah tempat di mana saya melihat banyak sekali spesies burung. Di sana saya melihat burung surga/ Cendrawasih (Paradisaea minor) yang terkenal itu, burung taun-taun, mambruk, kumkum, myna berwajah kuning, kakaktua raja dan banyak lagi spesies lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu dalam artikel ini.
Setiap pagi ratusan burung dari seluruh sudut hutan mendarat di bukit Aiwatar untuk meminum air hangat yang muncul dari dalam tanah. Menurut orang kampung yang menunjuk jalan ke sana, burung-burung meminumnya hingga mabuk. Saya tidak tahu kadar mineral apa yang terkandung di dalamnya yang membuat burung-burung sampai mabuk. Meskipun ada sebuah sungai besar di dekat bukit tersebut yang bernama Sungai Kamundan, kebanyakan burung lebih suka terbang ke bukit Aiwatar. Air itu kemungkinan besar mengandung garam.
Karang yang ada di bukit adalah terumbu karang purba. Ini indikasi yang jelas bahwa kawasan itu, dulunya adalah laut. Fenomena alam yang menarik karena Senopi dan Lembah Kebar berada jauh sekali dari lautan serta dibatasi oleh Pegunungan Tambrauw yang menjulang tinggi.
Pariwisata Tambrauw, Papua Barat
Katak hijau
Kehidupan Satwa Liar di Hutan Senopi
Burung bukanlah satu-satunya satwa yang bisa Anda lihat di hutan. Ketika saya sedang menjelajah hutan antara Senopi dan Bukit Aiwatar, saya melihat kanguru, sapi, rusa dan ular. Ada juga babi hutan, bermacam-macam kupu-kupu dan kumbang. Saat berjalan turun dari bukit Aiwatar, saya sempat melihat seekor katak hijau sedang tidur di atas daun.
Ekowisata Tambrauw
Bukit Aiwatar di Pegunungan Tambrauw
Di mana Aiwatar Hill berada?
Bukit Aiwatar jauhnya sekitar 5 jam berjalan kaki dari Kampung Senopi. Kampung, atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan distrik tersebut, terletak antara Manokwari dan Sorong. Anda harus bangun pagi-pagi sekali dan berangkat jam 6 untuk mencapai bukit itu di siang hari. Sepanjang perjalanan, Anda bisa melihat kakaktua putih, luri kepala hitam, dan luri ornate di cabang dan ranting pohon.
Bagaimana berangkat ke bukit Aiwatar?
Untuk mencapai bukit ini, baca instruksi berikut:
  • Bila Anda adalah wisatawan asing, terbanglah ke Jakarta (ibukota Republik Indonesia).
  • Setelah itu ikutlah salah satu penerbangan dalam negeri yang dilayani oleh Sriwijaya Air, Lion air atau BatikABatik ke kota Manokwari.
  • Pramuwisata dari DPC HPI Tambrauw atau DPD HPI Papua Barat bisa  mengatur kendaraan untuk mengantar Anda ke Senopi menghubungi penduduk setempat untuk menyiapkan perjalanan ke Bukit Aiwatar.
  • Ketika Anda telah tiba di Kampung Senopi, keesokan harinya, dengan ditemani penerjemah dan satu atau dua orang penduduk sebagai penunjuk jalan, Anda akan melanjutkan perjalanan ke situs pengamatan burung terbaik di Papua Barat tersebut.
Jika Anda masih membutuhkan informasi yang lebih terperinci tentang Distrik Senopi dan perjalanan petualangan alam dan pengamatan burung di Kabupaten Manokwari, Anda bisa menghubungi Kepala Kampung Senopi atau Dinas Pariwisata Tambrauw. Saya yakin Anda akan melihat banyak sekali burung-burung di Bukit Aiwatar (terutama di pagi) saat cuaca bagus.
Ekowisata di Pegunungan Tambrauw
Daerah Kepala Burung di Papua Barat

Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan sebelum berangkat
  • Bawalah kamera digital dengan lensa telefoto. Karena listrik di Senopi terbatas, beberapa buah baterai ekstra harus Anda persiapkan. 
  • Para pengamat burung suka membeli alat digiscoping. Anda dapat pula membeli teropong (kijker).
  • Pakailah sepatu olah raga (untuk berjalan di hutan dan sandal jepit untuk menyebrangi sungai).
  • Kalau Anda berencana menginap di hutan selama beberapa hari, siapkanlah tenda.
  • Makanan kaleng, beras dan mie instan, krim anti serangga harus dibeli di kota. 
Semoga perjalanan Anda ke Bukit Aiwatar bisa berlangsung dengan lancar dan sukses. oleh Charles Roring.

Recommended Birding sites in West Papua

French tourists were enjoying birding, wildlife watching and riverwalk tour in Manokwari of West Papua.
French birdwatchers in lowland forest
 of Manokwari
I have been guiding international birdwatchers on various birding trips in West Papua for years now. During those trips I saw various species of birds that are endemic to New Guinea island. There are several birding sites I highly recommend to visitors:

Lowland Forest of Manokwari

There is a river in northwest region of Manokwari. Its name is Mesirrokow. It is covered by tropical rainforest that has become the natural habitat of a lot of species of birds such as eclectus parrot, sulphut crested cockatoo, palm cockatoo, blyth's hornbill, coconut lorikeet, yellow capped pygmy parrot, pink spotted fruit dove and many others.

Susnguakti Forest of Arfak Range

Hiking, birding, camping and wildlife tour in Arfak range of Indonesia
Lesser Birds of Paradise in Susnguakti forest
Arfak range of Manokwari
There are paradise birds in Susnguakti forest of Manokwari. Some of them include: Lesser Birds of Paradise, King Bird of Paradise, and Magnificent Riflebird. Common Paradise Kingfisher, Rufous-bellied Kookaburra, Blyth's Hornbill, Hooded Butcherbird can also be seen in the forest. As a matter of fact, birds are not the only animals visitors can watch in the forest. There are also cuscus possum, Papuan dragon lizard, snakes, Large Ground Skink, bandicoot, and colorful butterflies, fireflies that could be watched in this lower montane forest of Arfak range. Tourists who want to go to this forest have to be physically fit.

Tambrauw Mountains

It is located between the regencies of Manokwari and Sorong. Most of the mountains are covered by pristine rainforest that is the natural habitat of a lot of species of tropical birds such as paradise birds, parrots, fruit doves, kingfishers, pigeons.  The regency of Tambrauw can be reached through Manokwari city and Sorong city.
Because the cost of traveling to Tambrauw mountains is expensive, I highly recommend that tourists come to this region in a group of at least 3, 4 or more people to share the cost.

Birding and Wildlife Watching Equipment

There are some equipment that visitors can bring in order to enhance their birding and wildlife watching experience. In general, birders bring binoculars. From my personal view, a pair of Swarovski EL 8.5×40 or Swarovski SLC 10×42 WB binoculars produces sharp and crisp images of birds, wild animals and unique wild flowers that we see through them. There are also Nikon Monarch 5 10×42, and the very affordable Visionking 10×42 mm binoculars. Sometimes I see birders bring spotting scopes. I used to try a Swarovski ATX 30-70×95. It was a very powerful birding gear. However, it is also expensive.

How to get to birding sites in Manokwari and Tambrauw Mountains?

To reach this hill, read the following instructions:
  • First, fly from your country to Jakarta - the capital of the Republic of Indonesia.
  • Second, take a domestic flight served by Sriwijaya Air, Garuda, NAM Air, Lion Air or Batik Air to Manokwari city or Sorong city. After that local guides could help organize your birding trips to the forest.
If you still need detailed information about rainforest tours and birdwatching trips in Tambrauw, you can still contact me at e-mail address. I am sure that you will have a great adventure in this beautiful West Papua's rainforest.
This was written by Charles Roring

Mendaki Gunung Arfak Melihat Burung Surga

Hari masih gelap ketika saya, Simon, dan Sofie (dua orang wisatawan Inggris dan Belgia) meninggalkan Swiss Belhotel ke arah luar kota di daerah pesisir Pegunungan Arfak. Jam menunjukkan 04.30 subuh. Jalanan nampak sepi. Tak ada kendaraan yang lalu lalang. 

Ekowisata di Manokwari
Cendrawasih Kuning Kecil

Maklum kota Manokwari tidaklah sebesar Jakarta, Surabaya ataupun Denpasar. Suzuki carry sewaan membawa kami melaju menembus dinginnya pagi. Simon dan Sofie nampak masih mengantuk. Karena perjalanan ke sana membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit, saya mempersilahkan mereka untuk tidur.
Wisatawan Inggris dan warga setempat pemilik Hak Ulayat Om Yunus

Tinggal saya dan supir yang tetap terjaga. Supir yang membawa kami pagi itu bernama Pak Sugi. Kami akhirnya bercerita panjang lebar tentang kehidupan di Papua. Mulai dari gampang-susahnya cari duit sampai ke pengalaman saya mengantar orang-orang bule untuk tidur selama beberapa hari di hutan. Nampaknya Pak Sugi ingin mengetahui lebih banyak tentang apa yang saya dan para wisatawan asing biasanya lakukan di hutan hujan tropis Papua. Saya pun bercerita tentang kegiatan hiking, camping dan birdwatching di Papua. Pak Sugi mendengarnya sambil tetap berkonsentrasi pada jalan raya dan kendaraan yang ia kemudikan. Maklum penumpangnya adalah orang bule. Jangan sampai terjadi kecelakaan. 
Burung Surga di Manokwari
Cendrawasih Kuning
Setelah beberapa kali menanjaki dan menuruni bukit, kami akhirnya tiba di depan sebuah rumah di Distrik Tanah Rubuh Manokwari. Di sana Oom Yunus Sayori telah menunggu di tepi jalan. Ia yang akan memandu kami mendaki Gunung Arfak untuk menuju suatu tempat rahasia di mana burung-burung surga biasa berdansa di dahan-dahan pohon pada pagi hari. Memang tempat itu kami rahasiakan agar para pemburu tidak bisa ke sana untuk menembak mereka. Hari sudah mulai terang. Nampak jelas matahari yang berbentuk bulat keemasan muncul dari permukaan laut Teluk Cendrawasih di sebelah timur. 
Pegunungan Arfak adalah destinasi pengamatan burung Cendrawasih yang terpopuler di dunia. Letaknya di sebelah selatan kota Manokwari - ibukota Provinsi Papua Barat.
Dalam bahasa Inggris burung ini dikenal dengan sebutan birds of paradise atau burung surga. Di Papua istilah burung surga kurang dikenal. Masyarakat lebih mengenalnya dengan nama burung Cendrawasih atau burung kuning. Hanya saja ejaan dan pengucapannya kadang berubah menjadi burung "Cenderwasih." Ada puluhan spesies burung surga. Kali ini yang akan kami tonton adalah lesser birds of paradise (Paradisaea minor).
Hutan Pegunungan Rendah (Lower Montane Forest)
Setelah menurunkan kami di titik start pendakian, Pak Sugi kembali ke Manokwari. Saya, Sofie, Simon dan Oom Yunus kemudian melanjutkan perjalanan kami menyusuri lereng-lereng Pegunungan Arfak yang terjal. Waktu yang kami tempuh adalah kurang lebih 1 jam 30 menit. Jalur pendakian yang sangat terjal itu membuat kami tersengal-sengal. Namun kami tidak bisa beristirahat di tengah jalan setapak terlalu lama karena burung-burung Cendrawasih itu hanya berdansa hingga sekitar jam 9. Kami harus menyebrangi kali kecil dua kali dan kemudian mendaki lagi daerah pegunungan yang kemiringannya mencapai 70-80 derajat. Untung saja Oom Yunus telah membuat tangga dan tempat pegangan yang terbuat dari bambu yang telah diikat ke akar dan batang pohon menggunakan tali hutan. 
Saat kami sampai di tempat pengamatan burung, ternyata burung-burung Cendrawasih jantan telah berdansa. Mereka memamerkan bulu-bulu kuning, putih dan coklat kepada para betina sebagai upaya untuk memikat mereka. 
Begitu melihat burung-burung surga itu berdansa di sela-sela dahan pohon, Sofie dan Simon menunjukkan rasa kegembiraan mereka. Mereka tidak lagi bersungut-sungut tentang terjal dan lamanya jalur pendakian. Kini mereka lebih sibuk memegang kamera untuk memotret burung-burung itu. Kami menghabiskan waktu selama dua jam mengamati burung berdansa. Bukan hanya burung Cendrawasih kuning saja yang bisa dilihat di Pegunungan Arfak. Ada juga burung-burung lainnya seperti cendrawasih raja (King Birds of Paradise), Cendrawasih Dada Biru atau Toowa Cemerlang (Magnificent Riflebird), taun-taun, kakaktua dan elang serta beberapa spesies Raja Udang (Kingfisher)
Setelah selesai mengamati burung, kami turun ke kali untuk beristirahat dan menikmati makan siang. Menunya sangat sederhana yakni Indomie rebus rasa soto dan teh panas dari Sariwangi. Kira-kira jam 1 siang hujan turun dengan derasnya dan kami pun harus berteduh di kemah turis selama 2 jam. Perjalanan sore itu kami akhiri setelah menonton Oom Yunus mempertunjukkan penggunaan korek api tradisional Papua yang terbuat dari bambu, sabut palem dan batu. Artikel ini ditulis oleh Charles Roring

Jalan-jalan ke Desa Tincep sentra penjualan bunga di Minahasa

Kecamatan Sonder Sulawesi Utara
Penjualan bunga di Tincep
Setelah banyak bercerita tentang liburan murah di Raja Ampat, Numfor dan Manokwari yang sebagian besarnya di Papua, kini saya akan bercerita sedikit tentang perjalanan saya di Sulawesi Utara. Kali ini, saya tidak akan bercerita tentang Bunaken melainkan tentang Tincep.
Tincep, kampung bunga
Mungkin nama itu baru atau terasa asing di telinga Anda. Tincep adalah sebuah desa kecil di Kabupaten Minahasa. Desa ini terkenal dengan pasar bunganya. Di sepanjang jalan dan lorong-lorong di kampung itu, berwarna-warni bunga dipajang penduduk di halaman rumah mereka. Sudah sejak lama Tincep dikenal di Provinsi Sulawesi Utara sebagai sentra penjualan bunga di samping kota Tomohon. Hamparan sawah hijau baik yang datar maupun yang berbentuk terasering menghiasi pandangan mata sepanjang perjalanan sesaat sebelum memasuki kampung Tincep.
Ramai di Akhir Pekan
Meskipun jaraknya yang agak jauh dari kota Manado, kampung ini ramai dikunjungi para pencinta bunga di hari Sabtu dan Minggu. Kebanyakan dari mereka datang dengan menggunakan kendaraan beroda empat agar bisa membawa bunga-bunga, yang pada umumnya telah ditanam dalam pot, yang dibeli langsung ke rumah masing-masing. Sebenarnya, bukan hanya masyarakat Sulawesi Utara saja yang suka berbelanja bunga di desa Tincep. Ada juga pembeli yang datang dari kota-kota yang jauh seperti Makassar, Jakarta dan Surabaya. Hal ini bisa terjadi karena lancarnya transportasi yang menghubungkan kota-kota besar tersebut dengan Manado. Setelah calon pembeli bunga tersebut tiba di Manado, mereka bisa langsung pergi ke Tincep dengan mobil. Ada sejumlah wisatawan yang datang dari daerah-daerah lain di Indonesia yang membeli bunga di Tincep dan ingin membawa pulang tanaman tersebut dengan pesawat. Untuk maksud tersebut, mereka harus menghubungi pihak karantina bandara guna memperoleh surat izin.
Air Terjun
Kecamatan Sonder, Minahasa, Sulawesi Utara
Air Terjun di Tincep
Sebenarnya, Tincep, sebagai daerah tujuan wisata memiliki pula daya tarik lain di samping bunga. Ada beberapa buah air terjun yang cukup tinggi dan bisa dilihat langsung dari jalan raya. Karena lokasi air terjun tersebut yang cukup curam, saya sarankan agar Anda tidak berjalan terlalu dekat ke tepi jurang.
Anda dapat pula mengikuti kegiatan arung jeram di Kampung Timbukar yang letaknya tidak jauh dari kampung Tincep. Bila ingin menginap, Anda bisa mencari penginapan terdekat yang terletak di kecamatan Sonder atau kota Tomohon.
Mujair Rica-rica di Sonder
Wisata di Sulawesi Utara
Ikan Mujair Bakar
Jangan lupa jika setelah berkunjung melihat bunga-bunga nan indah di Tincep, Anda perlu mampir di Sonder. Di sana Anda bisa menikmati ikan bakar mujair yang disajikan dengan dabu-dabu yang lezat rasanya. Uniknya, restoran yang Anda akan jumpai di Sonder adalah yang dibangun di atas air.
Ikan mujair rica-rica biasanya disajikan bersama tumis kangkung dan hidangan lainnya sesuai pesanan pembeli. Semoga informasi singkat tentang pariwisata di Sulawesi Utara ini bermanfaat buat Anda. Selamat berlibur dan jangan lupa untuk berhati-hati dalam perjalanan. oleh Charles Roring

Purple Naped Lory from Seram island

Indonesia is the largest archipelago in the world. It is also a natural paradise for birdwatchers who want to see great varieties of tropical birds. When I made a land tour across Seram island last June 2012, I saw a beautiful bird that had been captured by a Moluccan man. Its head was covered by purple and black feather whereas its wings were mostly green. Most of its body, bill and tail was red with some yellow stripe at his front neck or throat. The bus that was carrying me and other passengers stopped at a village in East Seram for a while to load rice. The man approached the bus and showed his pet. I immediately turned on my digital camera to make some pictures of the bird. I knew it was a lory but I was not able to identify it immediately.
The next day when I arrived in Ambon, I took out my book Birds of New Guinea trying to identify it. I saw several species that look like it but I was not really sure so, I made a little research on the internet. Finally, I found its pictures on several birding websites and on wikipedia. The bird is called Purple Naped Lory (Lorius domicela). According to wikipedia it is now an endangered species. Along the way from the town of Bula to Ambon city, I saw extensive deforestation. Endless rows of sawit palm trees, rice fields and other commodity plants have replaced pristine tropical rainforest. In addition to agriculture and logging activities, the hunting and trading of birds in Indonesia seem to be a serious problem to this country. 
When in Ambon, I was interviewed by Rodi Fofid from menamoria.com, an online radio about eco-tourism and the preservation of tropical rainforest. I expressed my concerns about bird trading in Maluku islands particularly in Seram and how we could stop it through responsible tourism that provides alternative income generation to local people. I hope that I can provide birding tour for birdwatchers who want to see endemic birds in Maluku islands. If you are interested in taking a birdwatching trip in Seram and its surrounding islands, please contact me by e-mail to peace4wp@gmail.com. I will be happy to arrange a trip for you. by Charles Roring/ E-mail: peace4wp@gmail.com
Also read:
Ikan bakar di Ambon memang lezat
Hamparan Sawah di Seram Timur

Azure Kingfisher in Halmahera

Hiking di Hutan Asai Manokwari

Mendengar kata hutan mungkin sebagian dari Anda akan membayangkan bahwa tempat itu cukup berbahaya karena bisa jadi ada binatang buasnya. Bayangan seperti itu ada benarnya juga tetapi di hutan Papua tidak ada binatang buas seperti singa atau harimau. Memang ada ular berbisa dan babi hutan serta burung kasuari tetapi mereka tidak agresif terhadap manusia. 
Ekowisata hutan
Bersama Wisatawan Thailand di hutan Asai
Sebagai pemandu wisatawan, saya sering mengantar tamu-tamu asing yang datang dari berbagai negara untuk kegiatan hiking di hutan hujan tropis Papua. Hiking adalah kegiatan berjalan kaki. Terkadang istilah ini dipakai secara bergantian dengan kata trekking dan backpacking. Selama melakukan perjalanan di hutan, ada banyak hal menarik yang bisa dilihat seperti bunga, kupu-kupu, burung dan jamur.

Berwisata ke Manokwari, Papua Barat
Pantai Asai Manokwari
Saya senang sekali berjalan di hutan khususnya di hutan Asai - daerah pesisir pantai utara Manokwari. Karena letaknya yang tidak terlalu jauh, sekitar 1 jam dengan mobil, maka Asai menjadi destinasi hiking yang penting bagi wisatawan asing. Hutan Asai bisa dijelajahi dengan berjalan kaki menyusuri Sungai Asai. Gemericik air di sela-sela batu, kicauan burung merupakan suara musik alam yang kami nikmati di kala berjalan menembus hutan tropis Asai. 
Setelah berjalan kurang lebih 2 jam di bawah pepohonan besar, suasana hutan belantara semakin terasa. Pada saat itu kami telah berada jauh sekali dari pemukiman penduduk dan merasa begitu dekat dengan alam. Ketika kaki terasa pegal, saya dan para wisatawan biasanya beristirahat sejenak di pinggir sungai. Sambil menikmati biskuit atau roti dan sebotol air mineral, saya suka berangan-angan, seandainya bisa punya rumah di tengah-tengah hutan. Kebanyakan wisatawan yang datang dari Eropa tidak menyia-nyiakan waktu yang ada. Setelah perut terisi makanan, langsunglah mereka melompat ke dalam air. Arus sungai Asai tidak terlalu kencang. Oleh karena itu, para wisatawan bisa berenang tanpa merasa takut. Seringkali, kami bertemu dengan anak-anak Papua yang sedang mencari ikan di sungai.

Selama berada di dalam hutan mereka tanpa hentinya memotret kupu-kupu, burung serta tumbuh-tumbuhan yang mereka jumpai. Ketika waktu telah menunjukkan pukul 3 sore, saya biasanya memberitahu mereka bahwa sudah saatnya untuk berjalan pulang. Kami tiba kembali di kota Manokwari pada jam 6 sore.
Semua wisatawan yang menikmati hiking di Asai berkomentar bahwa sesudah melihat hutan hujan tropis secara langsung, mereka menjadi lebih menghargai alam dan peranannya bagi kehidupan manusia. Dengan demikian kegiatan hiking lewat program eko-wisata yang telah saya kembangkan selama ini di Kabupaten Manokwari, mampu meningkatkan kepekaan dan kepedulian orang untuk lebih mencintai hutan. Bila Anda tertarik untuk menjelajah Papua termasuk berkemah selama beberapa malam di hutan belantara, jangan lupa untuk mengenakan sepatu hiking yang tahan air, memakai lotion anti serangga dan tas ziplog guna melindungi peralatan elektronik di kala hujan. Tidak ada sinyal ponsel di dalam hutan sehingga berjalanlah dengan hati-hati. Taati nasehat pemandu wisata Anda selama kegiatan hiking agar Anda terhindar dari kecelakaan dan hal-hal lain yang tidak diinginkan oleh kita semua.
Wisata alam di hutan Papua bisa digolongkan sebagai petualangan sehingga janganlah berharap bahwa ada kemewahan di tempat ini. Pemandangan hutan, sungai dan laut Manokwari yang indah bisa Anda temui saat berjalan di daerah yang terpencil ini. oleh Charles Roring/email: peace4wp@gmail.com

Bersepeda di Bali

Petani sedang membajak sawah di Ubud Bali
Petani sedang membajak sawah
Selama tiga bulan berada di Bali, saya sering berkeliling Ubud dengan mengendarai sepeda di sore hari. Saya naik sepeda gunung buatan Wim Cycle dan bukannya sepeda motor. Kalau di Papua, saya biasa menggunakan Polygon Dirt Jump DX 2.0. Sawah, pura dan pemukiman penduduk di daerah pinggiran kota seni tersebut sangat menarik dijelajahi sambil mengayuh sepeda. Ternyata bukan hanya saya saja yang suka keliling-keliling dengan sepeda gunung tetapi banyak juga wisatawan asing melakukan hal serupa. Bahkan ada dari mereka yang berkeliling pulau Bali selama beberapa hari dengan kendaraan roda dua bertenaga manusia ini. 
Jalur tanjakan di jalan Suweta menjadi lokasi terdekat pertama yang saya kunjungi. Pemandangan para petani yang bekerja membajak sawah-sawah terasering menjadi lukisan alam yang enak dipandang mata. Saya selalu membawa kamera travel ke mana-mana untuk memotret berbagai hal menarik yang saya jumpai di jalan. Oleh karena itu, saya tidak lupa mengambil beberapa gambar petani dan sawahnya tersebut. Setelah lelah mengayuh sepeda akhirnya saya sampai di tikungan yang mengarah ke Jalan Sriwedari.
Wisata di Ubud Bali
Blogger: Charles Roring saat bersepeda di Ubud

Bagi saya ini adalah downhill yang bagus. Sepeda yang saya kayuh melaju melewati jejeran villa, resort dan pura. Angin dingin yang menerpa di badan membuat tubuh saya yang tadinya dipenuhi peluh akhirnya segar kembali. Dari Jalan Sriwedari, saya masuk lagi ke Jalan Raya Ubud yang sering macet di siang hari karena dipadati bus-bus wisatawan. Sesampainya saya di penginapan, tempat pertama yang saya tuju adalah kulkas. Sebotol air es atau pocari sweat sudah cukup untuk melepas dahaga.
Sebagai destinasi wisata terpopuler di Indonesia, Bali memiliki infrastruktur dan fasilitas yang sangat memadai untuk wisatawan baik domestik maupun manca negara, termasuk pula untuk para pencinta olah raga sepeda. Ada sejumlah perusahaan tur yang menawarkan paket keliling Bali dengan sepeda gunung. Bagi wisatawan yang ingin menjelajah Bali tanpa ditemani guide, mereka bisa menyewa sepeda di beberapa tempat di kota Ubud dengan harga yang sangat terjangkau. Rata-rata harga yang dikenakan oleh pemilik sepeda adalah Rp. 50.000/hari.
Kalau Kuta adalah tempat bagi para pencinta pantai, maka Ubud lebih cocok buat wisatawan yang suka dengan alam pedesaan, seni dan budaya. Ada banyak galeri lukisan di tempat ini baik yang kecil maupun yang besar seperti Museum Puri Lukisan dan Neka Art Museum. Pada malam hari pentas tari tradisional Bali seperti legong, dan pendet bisa disaksikan dengan harga yang sangat terjangkau. Ada banyak hotel murah atau homestay di Ubud sehingga siapa saja yang ingin berkunjung ke Bali tidak akan menemui kesulitan memperoleh penginapan. Kontak saya di: Charles/E-mail: peace4wp@gmail.com whatsapp: +6281332245180
Baca juga:
Pengamatan Burung di Bali
Keindahan Alam Kintamani
Jalan-jalan di Bali

Jalan-jalan di Bali

Ekowisata di Bali
oleh Charles Roring
Bali mungkin adalah pulau yang paling terkenal di dunia. Pulau ini adalah pusatnya pariwisata Indonesia. Setiap tahun jutaan pengunjung datang ke Bali. Mereka ingin berenang dan berjemur di Pantai Kuta dan Legian atau menjelajah keindahan sawah terasering di daerah pegunungan. Meskipun pertanian masih merupakan sektor terbesar yang menyerap tenaga kerja, pariwisatalah yang menjadi kekuatan utama penggerak ekonomi. Bali juga adalah pusat seni. 
Para pencinta seni akan merasa bahwa kota Ubud cocok buat mereka. Galeri dan museum seni menyajikan kecekatan tangan para pelukis dan pengukir Bali yang luar biasa. Beberapa orang pengusaha menjadikan Bali sebagai tempat berdagang. Mereka mengimpor ukiran, perabotan, dan bahkan rumah-rumah kayu untuk klien mereka di Eropa, Amerika Selatan atau Australia. Tukang-tukang kayu Bali dapat membangun rumah dengan rangka kayu yang dihiasi relief seni pada dinding dan ukiran pada tiang-tiang. Bagi masyarakat Bali, seni merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka sehari-hari.

Restoran dan toko di Bali
Warung dan restoran di Ubud Bali
Di Bali - pulau Dewata, setiap hari adalah hari libur. Ada banyak atraksi bagi para pelancong yang dapat mereka lihat dan nikmati. Dari hiking di Gunung Batur, hingga menonton lumba-lumba di Lovina, pengunjung bisa memilih aktivitas dan paket petualangan yang mereka inginkan di pulau tropis ini. Pasangan-pasangan yang baru saja menikah datang ke Bali untuk menikmati bulan madu mereka juga. Merasa stress dengan pekerjaan di kantor? Jangan kuatir, Bali memiliki sederetan resort dan spa pantai di mana Anda bisa menginap untuk memesan jasa pijat dan mengambil kelas-kelas yoga.
Saya telah mengunjungi Bali beberapa kali. Kunjungan saya yang terakhir tahun ini adalah selama tiga bulan. Saya tinggal di sebuah rumah tropis yang cantik di Jalan Sukma, kota Ubud. Saya makan nasi campur, mengendarai sepeda gunung untuk melihat lereng-lerang Ubud. Saya mengunjungi galeri seni Neka dan Anthony Blanco serta Museum Puri Lukisan untuk melihat lukisan tradisional dan modern. Menggambar adalah hobi saya. Ketika saya berada di lantai dua galeri seni Neka, saya melihat lukisan-lukisan pastel karya Gerard Hofker. Karya seni yang fantastis dari seniman Barat tersebut menggambarkan gaya hidup tradisional orang Bali yang secara perlahan-lahan bercampur dengan buday dari seluruh penjuru dunia.
Orang Bali adalah masyarakat yang religius. Hinduisme adalah agama utama di sini. Namun demikian, masyarakat Bali cukup toleran dengan budaya dan agama lain. Pura ada di mana-mana bahkan di pusat bisnis sekalipun seperti pasar Ubud dan pusat perbelanjaan di jalan raya Kuta. Tapi budaya Bali tidak akan terhapus. Budaya ini akan terus ada berdampingan dengan budaya lain yang telah masuk di pulau yang indah ini. Jadi, budaya Bali tidak lagi menjadi milik Indonesia. Budaya Bali adalah milik dunia. Bali adalah sebuah kosmopolitan. Datanglah ke Bali dan Anda akan merasa seakan-akan berada di rumah sendiri.

Wisata Bahari di Kaimana


Pemandangan Teluk Triton
Senja di Teluk Triton
Selama ini kota Kaimana lebih dikenal di Indonesia lewat lagu Alfian yang berjudul, Senja di Kaimana. Tetapi sebenarnya kabupaten ini memiliki sejumlah tempat yang patut dikunjungi oleh para pelancong yang suka dengan pemandangan alam. 
Pantai-pantai dan pulau-pulau sunyi
Teluk Triton, Selat Iris, Pulau Namatote; Aiduma; Dramai; Adi; Nusurumi; Mauwara; Semisarom; dan Venue memiliki keindahan yang luar biasa dan bisa disejajarkan dengan berbagai destinasi wisata bahari di belahan dunia lainnya. Banyak pulau dan pantai-pantai berpasir putih di Kaimana yang tidak didiami orang. Selama berada di sana, yang terdengar hanyalah deburan ombak, kicauan burung dan suara daun ditiup angin.

Jalan-jalan ke Kaimana
Pantai Waala
Destinasi Diving Kelas Dunia
Kunjungan saya ke Selat Iris dan Teluk Triton beberapa bulan lalu di sebelah tenggara kota Kaimana telah membuat saya tercengang-cengang dengan panorama alam Papua yang masih perawan tersebut. Memang kebanyakan masyarakat Indonesia belum mengenal Teluk Triton dan Selat Iris ataupun Pulau Adi. Oleh karena itu saya menulis artikel yang pendek ini untuk memperkenalkan tempat-tempat tersebut kepada pembaca. Bila Anda adalah seseorang yang hobi menyelam atau snorkeling, maka Triton adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Setiap tahun, mulai bulan Oktober hingga Maret, kapal-kapal liveaboard yang membawa para penyelam asing datang ke Kaimana. 
Soft coral dan hardcoral di daerah itu merupakan surga bawah laut yang ingin mereka lihat. Ada ribuan spesies ikan yang menarik di Kaimana. Salah satunya adalah walking shark atau hiu berjalan (Hemiscyillum henryi). Ikan ini merupakan species yang endemik di perairan tersebut. 
Hiu Paus, Paus dan Lumba-lumba
Selain menyelam di kawasan terumbu karang yang berwarna-warni, wisatawan dapat pula melihat ikan hiu paus (whale shark) yang datang untuk menikmati sarapan ikan puri di bagan-bagan milik para nelayan. Wisatawan dapat pula menyelam atau snorkeling bersama-sama dengan ikan hiu paus namun dengan tetap tidak mengganggu kenyamanan mereka.
Bila musim angin selatan tiba dengan gelombangnya yang besar-besar, maka banyak ikan-ikan kecil mencari perlindungan di dalam Teluk Bitsyari dan Teluk Triton. Hal itu menarik predator mereka yang merupakan ikan-ikan besar untuk ikut masuk ke dalam teluk-teluk itu guna mencari makanan. Lumba-lumba juga banyak dijumpai di perairan Kaimana. Mereka sering mengiringi perahu-perahu motor yang melaju menuju Teluk Triton atau kembali ke kota senja yang indah dan permai tersebut.
Ekowisata di Kaimana
Kota Kaimana
Penerbangan ke Kaimana
Maskapai penerbangan Wings air melayani penerbangan ke kota ini dari kota-kota besar di Indonesia. Kunjungi masing-masing website dari maskapai penerbangan tersebut atau hubungi agen perjalanan di kota Anda untuk membeli tiket penerbangan ke Kaimana.
Hotel
Kaimana Beach Hotel terletak tidak terlalu jauh dari bandara Utarom saat ini merupakan hotel yang terbesar di Kaimana. Harga kamarnya sekitar Rp. 500 - 700 ribu/malam. Ada juga beberapa hotel kecil di dalam kota Kaimana dengan harga yang lebih murah. Ditulis oleh Charles Roring