Translate

Burung Cendrawasih Wilson

Nama Diphyllodes respublica diberikan oleh keponakan Charles Lucien Bonaparte, seorang keponakan dari Napoleon yang adalah pendukung sejati republik. Ada kecenderungan umum di kalangan para zoologist pada masa itu untuk memberi nama pada spesies baru menurut nama raja, ratu, atau bangsawan tertentu. Ia tidak setuju dengan hal tersebut. Sebagai gantinya, burung surga asal Raja Ampat ini diberi nama ilmiah seperti yang tertulis di atas. Burung Cendrawasih Wilson atau Cendrawasih Botak adalah salah satu spesies burung surga yang hidup di Kepulauan Raja Ampat bagian utara terutama di Waigeo, Gam dan Batanta. 

Ekowisata pengamatan burung di Raja Ampat
Cendrawasih Wilson

Tubuhnya kecil, yang dewasa sekitar 16 centimeter. Yang jantan memiliki punggung sayap berwarna merah, tengkuk kuning, kulit kepala biru bergaris hitam dan dada yang berwarna hijau tua kegelapan. Ada dua antena melingkar di ekornya. Yang betina warnanya coklat biasa dengan dada krem bergaris coklat kehitaman. 

Burung ini hidup jauh di dalam hutan hujan tropis Raja Ampat. Perilakunya mirip dengan Cendrawasih Belah Rotan yang hidup di hutan pegunungan menengah di daratan utama Tanah Papua. Mereka sama-sama membuat tempat memikat betina di menggunakan tanaman kecil di dekat tanah sebagai tempatnya bertengger. 

Cendrawasih Burung Surga
Cendrawasih Wilson jantan sedang memanggil-manggil pasangan betinanya

Burung Cendrawasih Wilson membersihkan tanah dari daun dan ranting yang jatuh lalu memanggil-manggil pasangan betinanya untuk kawin. Kalau sang betina sudah datang, ia akan menggoyang-goyangkan antena di ekornya, melompat dari tanaman tongkat yang satu ke tongkat lain sambil memamerkan keindahan bulunya yang berwarna-warni.

Burung Cendrawasih Wilson telah menjadi daya tarik ekowisata yang penting di Kepulauan Raja Ampat. Banyak sekali wisatawan pengamat burung yang telah berkunjung ke sana. Mereka datang dari berbagai negara baik Eropa, Inggris, Australia, dan Amerika serta Asia. Meskipun di pinggir hutan Waigeo tidak ada hotel berbintang 5, warga setempat dan para pengusaha di Raja Ampat telah membangun akomodasi yang cukup memadai terutama di Pulau Waigeo, Gam dan Batanta. Ada homestay dengan kualitas kamar standard dan ada juga resort dengan kualitas kamar ber AC yang lebih nyaman. Lokasi pengamatan burung Wilson agak jauh ke dalam hutan, wisatawan perlu berjalan kaki atau menggunakan kendaraan 4 WD. Ada sebuah lokasi pengamatan burung Wilson di bagian selatan pulau Waigeo yang agak terpencil. Untuk menjangkaunya, wisatawan perlu naik perahu motor selama kurang lebih 20 menit dari kampung Saporkren kemudian dilanjutlan dengan jalan kaki selama 1 jam.

Ekowisata di Raja Ampat
Pemandangan di Raja Ampat

Peralatan Pengamatan Burung dan Fotografi

Untuk mengamati burung-burung tropis di hutan Papua, biasanya para pengamat burung menggunakan binokular (teropong dua tabung lensa). Ukuran yang umum dipakai adalah 8×42 mm, 10×42mm jenis prisma roof. Binokular untuk pengamatan burung yang terkenal kualitasnya adalah yang bermerek Leica, Swarovski, Zeiss, Nikon, Vortex Viper HD, Bushnell, dan lain-lain. Teropong yang berkualitas tinggi biasanya menggunakan lensa extra low dispersion, kedap air, ruang tabung diisi gas nitrogen, serta prisma Bak 4, serta cat multi lapisan pelindung lensa yang mencegah silau.

Di samping binokular, peralatan fotografi sering juga dibawa oleh wisatawan. Kamera D-SLR, dengan lensa telefoto seperti Sigma 150-600mm sport adalah pilihan yang baik. Tapi peralatan ini perlu tripod sebagai penstabil kamera. Karena berat dan banyak memakan tempat, banyak wisatawan pengamat burung memilih membawa kamera point and shoot seperti Nikon P1000 atau Nikon P900. Beberapa tahun lalu, saya menggunakan kamera Fujifilm HS50EXR. Meskipun bukan merupakan yang terbaik di pasaran, setidaknya saya bisa membuat gambar Cendrawasih Wilson yang baik untuk keperluan identifikasi dan penulisan jurnal ekowisata pengamatan burung di blog ini. 

Selama berada di Raja Ampat, wisatawan bisa juga melihat banyak burung yang lain serta jalan-jalan menggunakan speedboat untuk melihat kepulauan Raja Ampat yang indah dan permai.  Ditulis oleh Charles Roring.

Cendrawasih Kuning Kecil

Cendrawasih Kuning Kecil atau yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Lesser Birds of Paradise adalah salah satu spesies burung surga yang hidup di hutan dataran  dan pegunungan rendah dari Tanah Papua. Burung ini dikenal luas oleh masyarakat karena memiliki bulu yang berwarna kuning keemasan, putih, coklat serta hijau sehingga menjadikannya sebagai salah satu burung tercantik di dunia. Di wikipedia, menurut IUCN status burung ini adalah least concern yang artinya tidak terlalu memprihatinkan. Memang benar bahwa populasi Cendrawasih Kuning Kecil masih banyak di alam karena sebarannya bisa di temukan di hampir semua wilayah Papua Barat dari wilayah Vogelkop, Bomberai, Kaimana, Nabire, Yapen Waropen, Sarmi, Jayapura; hingga ke kawasan utara Papua New Guinea. 

Burung Cendrawasih Kuning Kecil atau Lesser Birds of Paradise (Paradisaea minor)
Burung Cendrawasih Kuning Kecil di hutan Susnguakti Manokwari

Meskipun masih banyak, populasinya burung Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor) mengalami tekanan yang semakin besar. Habitat asli dari Cendrawasih adalah hutan hujan tropis. Di berbagai tempat di Tanah Papua, hutan tersebut ditebang dan lahannya dialihfungsikan menjadi lokasi perkebunan monokultur kakao, kelapa sawit, pala, kebun pertanian hortikultura, wilayah pemukiman penduduk dan perkantoran maupun gedung milik pemerintah dan swasta, lokasi konsesi tambang, hingga jalan raya. 

Hilangnya habitat dan masih adanya perburuan liar merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya penurunan populasi burung Cendrawasih Kuning Kecil dan burung-burung tropis Papua secara drastis. 

Lesser Birds of Paradise (Paradisaea minor)
Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor) Jantan di hutan Susnguakti Manokwari

Pertambahan jumlah penduduk, serta aktivitas investasi di bidang logging, agrobisnis dan agroindustri dan pertambangan telah menyebabkan pembukaan lahan hutan secara besar-besaran. Meskipun pembukaan lahan tidak dapat dicegah, hal ini ditekan lewat perencanaan wilayah yang hati-hati. Desain-desain tapak yang komprehensif diperlukan oleh para pengambil kebijakan dalam pembangunan untuk menyelaraskan kebutuhan pembukaan lahan bagi berbagai kepentingan manusia dengan upaya pelestarian hutan hujan tropis yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia itu sendiri. 

Teknologi informasi yang berkembang sangat cepat diiringi dengan ketersediaan peralatan fotografi yang semakin canggih dengan harga yang lebih terjangkau telah memungkinkan setiap orang yang berkunjung ke hutan hujan tropis di Tanah Papua untuk memotret dan membuat video tentang satwa burung yang indah ini. Hasil pemotretan dan perekaman video tersebut kemudian dibagikan ke media sosial, blog dan website di dunia maya. Ternyata foto dan video dari burung surga tersebut menarik minat banyak sekali pengamat burung dan pencinta alam untuk datang ke Tanah Papua guna menyaksikannya secara langsung. 

wisatawan Spanyol lagi nonton Cendrawasih
Wisatawan Spanyol nonton burung di Manokwari

Kedatangan para wisatawan pencinta alam ini semakin membantu penyebaran informasi mengenai keberadaan burung Cendrawasih Kuning Kecil dan kekayaan keanekaragaman hayati di Tanah Papua ke masyarakat internasional yang terhubung ke dunia maya. Ekowisata pengamatan burung yang tadinya kecil sekarang telah berubah menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang ikut membantu pemerintah untuk mendatangkan devisa, membuka lapangan kerja sekaligus membantu masyarakat melestarikan alamnya sendiri.

Menurut US Fish and Wildlife Service, Pengamatan burung adalah salah satu aktivitas outdoor tercepat di Amerika. Trend ini terjadi juga di berbagai wilayah lain termasuk di Asia, Eropa dan Amerika Serikat. Ini adalah peluang ekonomi strategis bagi berbagai negara yang memiliki hutan.

Ekowisata pengamatan burung dan satwa liar sudah berkembang sejak akhir tahun 1990an di Tanah Papua. Jumlah lokasi pengamatan burung semakin bertambah. Di Provinsi Papua Barat beberapa nama tempat yang cocok untuk dikunjungi wisatawan pengamat burung dan satwa liar:

  • Hutan Susnguakti, Hutan Soyti di Kwau, Hutan Syioubri, Hutan Susnguakti di Manokwari;
  • Hutan Ayapokiar, Hutan Ases dan Gunung Sakofsiah, Hutan Weyos di Tambrauw;
  • Hutan Malagufuk, Klatomok, dan Malaumkarta Raya di Kabupaten Sorong;
  • serta Pulau Waigeo di Raja Ampat (bukan habitat Cendrawasih Kuning Kecil, tapi ada Cendrawasih Merah)
Aksesibilitas ke berbagai lokasi pengamatan burung menjadi faktor penentu keberhasilan program ekowisata di wilayah-wilayah tersebut.
Disamping itu juga, ketersediaan akomodasi yang memadai dapat mempercepat peningkatan jumlah kunjungan wisata ke lokasi-lokasi hutan tersebut di atas. Namun demikian akomodasi bukan merupakan faktor yang sangat vital. Lokasi wisata pengamatan burung di hutan Susnguakti, misalnya, tidak memiliki fasilitas guesthouse yang memadai. Namun demikian, jumlah wisatawan yang telah berkunjung ke sana sudah mencapai ratusan orang. Persentase wisatawan asing yang hutan Susnguakti adalah 99%. 
Tourist basecamp in Susnguakti forest of Manokwari
Basecamp untuk wisatawan di Hutan Susnguakti Manokwari
Kisah sukses program ekowisata terjadi juga di Lembah Klasow. Dua kampung yang sudah dikunjungi wisatawan asing adalah Klatomok dan Malagufuk. Di sini, spesies burung-burung surga lainnya seperti Magnificent Riflebird, King Bird of Paradise, Twelve-wired Bird of Paradise, Glossy Mantled Manucode bisa ditemukan. 
Sebenarnya ekowisata pengamatan burung tidak hanya terbatas pada pengamatan burung Cendrawasih saja. Semua burung tropis yang ada di hutan Papua baik untuk diamati. 
Tanah Papua adalah surganya burung-burung. Dari yang kecil seperti Tit Berrypecker di Pegunungan Arfak dan Northern Cassowary di Hutan Kampung Malagufuk dan Kampung Klatomok merupakan daya tarik ekowisata yang patut kita jaga bersama. 
Untuk bisa menyaksikan secara langsung burung-burung tropis yang indah ini, wisatawan perlu terbang ke Papua Barat. Ada dua kota yang bisa dituju yakni Manokwari dan Sorong. Batik dan Sriwijaya adalah airline yang bisa melayani kedua kota tersebut. Wisatawan pengamat burung internasional kebanyakan lebih memilih Manokwari karena wisatawan bisa mengamati burung di dataran rendah, hingga ke Pegunungan Tinggi sehingga spesies yang bisa dilihat menjadi lebih bervariasi. 
kota Manokwari di Papua Barat
Manokwari

Selain berwisata ke hutan untuk menonton burung dan satwa liar, wisatawan bisa menikmati aktivitas wisata bahari. Ada terumbu karang yang bisa dilihat di pesisir pantai dengan bermacam-macam jenis ikan. Sebagai ibu kota Provinsi Papua Barat, ada puluhan hotel di kota ini dari yang harga murah hingga yang mahal. Ada juga banyak toko, restoran dan rumah makan. Oleh karena itu wisatawan tidak akan menemui banyak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan mereka selama berlibur di Manokwari.
Pada akhirnya, semua hingar-bingar industri pengamatan burung dan satwa liar di Papua Barat haruslah membawa kesejahteraan bagi masyarakat lokal pemilik hutan. Jika mereka bisa mendapat pekerjaan dan penghasilan dari program ekowisata ini, niscaya kicauan Cendrawasih Kuning Kecil dan nyanyian burung-burung surga di Tanah Papua akan terus terdengar sampai ke akhir zaman. Ini ditulis oleh: Charles Roring.
Baca juga:

Cendrawasih Raja

Burung Cendrawasih Raja memiliki ukuran yang agak kecil dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain seperti Lesser Birds of Paradise, Twelve-wired Bird of Paradise, Western Parotia, Long-tailed Paradigala, dan lain-lain. Burung ini memiliki bulu di sayap, punggung dan kepala yang berwarna merah. Dadanya ada buku berbentuk perisai berwarna hijau. Bagian bawah dada, perut hingga buntutnya berwarna putih. Burung Cendrawasih Raja memiliki 2 antena dengan bulatan hijau di ekornya. Paruhnya kuning oranye.
Karena ia sering dilihat orang sedang hinggap di tali-tali atau rotan yang menggantung di pepohonan maka ia dipanggil juga dengan nama Cendrawasih Belah Rotan. 
Burung Cendrawasih Raja di hutan Susnguakti, Papua Barat
Cendrawasih Raja / King Bird of Paradise (Cicinnurus regius)
Cendrawasih Raja hidup di pohon yang ada tali-tali rotan menggantung dan melilit batang utama maupun cabang-cabangnya. Kebanyakan di satu pohon berukuran sedang hanya ada 1 ekor jantan. Ia akan berteriak memanggil pasangan betinanya untuk kawin di pagi hari dari sekitar jam 8 hingga 11 siang dan di sore hari kira-kira jam 14.30 - 16.00. Jika burung-burung betina yang datang ke sebuah pohon ada beberapa ekor, hal ini akan membuat Cendrawasih Raja yang ada di beberapa pohon lain di sekitarnya menjadi cemburu. Mereka akan datang ke pohon tersebut untuk mengejar para betina itu.
Cendrawasih Raja
Cendrawasih Raja di hutan hujan tropis
Cendrawasih Raja jantan yang menjadi tuan rumah di pohon tersebut akan marah dan mengusir jantan-jantan lain pesaingnya tersebut. Maka hal yang tak diinginkan pun terjadi, yakni, perkelahian dan kejar-kejaran di antara mereka.
Di sinilah hukum alam berlaku, siapa yang kuat maka ia akan bertahan. 
Wisata Nonton Burung Cendrawasih
Di Tanah Papua, ada banyak tempat yang bisa dikunjungi khususnya untuk wisatawan yang ingin menonton burung-burung Cendrawasih. 
Wisata Bird watching di Pegunungan Tambrauw
Wisata Prancis di hutan Tambrauw


Di Kabupaten Tambrauw, burung ini hidup di sepanjang kawasan pesisir terutama di hutan dataran rendah hingga pegunungan rendah dari Mega, Sausapor, Werur, Saubeba, Jen Womom, Weyos, Waibeem, Wau, dan sekitarnya hingga ke Imbuan dan Distrik Saukorem.
Di Manokwari, salah satu lokasinya adalah di Hutan Susnguakti yang terletak sekitar 1 jam perjalanan dengan kendaraan roda 4 dari Manokwari, ditambah lagi 1 jam jalan kaki naik gunung. 
Di hutan ini ada beberapa spesies burung surga seperti Cendrawasih Kuning Kecil, Cendrawasih Raja, Cendrawasih Dada Biru/ Toowa Cemerlang, Glossy-mantled Manucode, dll. 

Baca juga: 

Burung-Burung Surga

Burung surga atau yang umumnya dikenal untuk sebutan Cendrawasih memiliki warna bulu indah sekali. Yang paling terkenal saat ini adalah Cendrawasih Kuning Kecil. Kita bisa melihat foto, gambar atau ornamennya di mana-mana, baik di baliho para politisi, baju batik Papua, atau di berbagai logo organisasi, maupun perusahaan di dalam dan di luar Tanah Papua. 
Burung Surga Kuning Kecil
Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor)

Burung Cendrawasih Kuning Kecil (Lesser Birds of Paradise) ini hidup di daerah dataran rendah hingga pegunungan rendah dari wilayah vogelkop sampai ke Nabire, wilayah Yapen Waropen, Sarmi, Jayapura sampai kawasan utara Papua New Guinea. Karena sebarannya yang luas sekali maka burung ini poluler di Tanah Papua. Foto Cendrawasih di atas, saya buat di hutan Susnguakti Manokwari.
Sebenarnya ada 42 spesies burung surga yang dikenal dalam ilmu pengetahuan. Tidak semuanya memiliki warna kuning emas seperti Cendrawasih Kuning Kecil. Namun setiap spesies cendrawasih yang ada dalam keluarga besar burung surga (birds of paradise) memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Berikut ini adalah sebagian kecil spesies yang sempat saya potret ketika menjelajah hutan hujan tropis Papua bersama wisatawan.
Cendrawasih Merah (Red Bird of Paradise)
Burung Surga Merah dari Raja Ampat

Red Bird of Paradise (Cendrawasih Merah) ini mirip dengan burung Cendrawasih Kuning Kecil. Tapi Red BOP hidup di Kepulauan Raja Ampat terutama di Waigeo, Gam dan Batanta serta beberapa pulau yang berdekatan di satu kawasan tersebut. 
Western Parotia di Pegunungan Arfak
Western Parotia (Parotia sefilata)
Burung Western Parotia, misalnya, meskipun tidak memiliki warna seindah Cendrawasih Kuning Kecil, ia memiliki tarian yang indah sekali. Burung ini hidup di hutan pegunungan tinggi di wilayah kepala burung (vogelkop) dari Provinsi Papua Barat. Berbeda dengan manusia, dalam dunia perburungan, burung jantanlah yang berdansa. Tariannya mirip seorang penari balet. Oleh karena itu, para pengamat burung ini sering menyebutnya ballerina bird. Sebelum berdansa, tanah tempat ia berdansa akan dibersihkannya terlebih dahulu dari ranting, dan daun-daun yang gugur. Setelah itu, ia akan memanggil para burung Western Parotia betina untuk datang ke lokasi dansa. Ketika mereka telah datang dan berkenan untuk menonton pergelaran tari maka ia akan berdansa.
Cendrawasih Botak dari Raja Ampat
Cendrawasih Botak (Diphyllodes respublica)
Masih di wilayah Raja Ampat, ada spesies Cendrawasih Botak (Wilson's Bird of Paradise). Burung ini ukuran badannya kecil sekali dibandingkan saudara-saudaranya yang lain.
Long-tailed Paradigala (Paradigala Ekor-panjang)
 - burung ini memiliki sebaran yang sangat terbatas yakni di kawasan hutan pegunungan tinggi dari Pegunungan Arfak. Oleh karena itu, burung surga tersebut sulit untuk dilihat orang kecuali jika ia sedang beruntung. Secara pribadi, setelah menjalankan profesi sebagai tourist guide selama 10 tahun baru pertama kali itulah saya melihat burung Long-tailed Paradigala di tempat ditaruhnya buah merah. 
Wisata nonton burung surga di Papua Barat
Long-tailed Paradigala
Magnificent Bird of Paradise (Diphyllodes magnificus) hidup di daerah transisi hutan pegunungan rendah ke pegunungan tinggi.  Ada beberapa lokasi yang bisa dikunjungi wisatawan untuk mengamati burung ini. Beberapa di antaranya adalah Hutan Ayapokiar dan Fef di Pegunungan Tambrauw, serta Hutan Soyti di Pegunungan Arfak. Di hutan Andaer Kampung Ayapokiar Pegunungan Tambrauw, lokasi pengamatan burung Magnificent Bird of Paradise hanya berjarak 50 meter dari lokasi pengamatan burung Lesser Birds of Paradise. Oleh karena itu, wisatawan pengamat burung sangat dianjurkan untuk berkunjung ke sana. 
Magnificent Bird of Paradise (Cicinnurus magnificus)
Magnificent Bird of Paradise di Hutan Andaer
Pegunungan Tambrauw, Papua Barat

Burung Magnificent Bird of Paradise atau Cendrawasih Belah Rotan
Magnificent Bird of Paradise

Magnificent Riflebird (Toowa cemerlang)
Burung Toowa Cemerlang atau
Magnificent Riflebird

Magnificent Riflebird atau Toowa Cemerlang di Hutan Malagufuk, lembah Klasow, Kabupaten Sorong
Toowa Cemerlang atau
Magnificent Riflebird di hutan hujan tropis Papua

Magnificent Riflebird (Ptilinoris magnificus) hidup di hutan dataran dan pegunungan rendah. Dalam bahasa Indonesia, burung ini disebut Toowa Cemerlang. Bulunya hitam dan dadanya ada semacam perisai biru gelap yang berkilau ketika terkena cahaya. Jika sang jantan berdansa untuk memikat betina, polanya berdansa mirip seorang pemandu sorak (cheerleader) di sebuah pertandingan olah raga. Ditulis oleh Charles Roring WA: +6281332245180

Untuk sementara, ini dulu penjelasan saya, nanti dilanjutkan di lain waktu ...

Kumkum

Kumkum adalah nama yang dipakai oleh masyarakat di Tanah Papua untuk burung Pinon Imperial Pigeon (Ducula pinon) dan sejenisnya. Burung ini memiliki fungsi yang penting sekali dalam ekosistem hutan hujan tropis sebagai penyebar biji-bijian. Masih sebangsa dengan burung merpati, burung kumkum sering dijadikan simbol untuk pengungkapan cinta sejati, dan kesetiaan.
Sebenarnya burung-burung yang sejenis dengan kumkum tetapi dengan ukuran tubuh dan warna yang berbeda di seluruh Tanah Papua dan pulau-pulau satelit di sekitarnya ada banyak. Keluarga pigeons dan doves ada sekitar 52 spesies di daerah ini. Beberapa di antaranya (dalam Bahasa Inggris) adalah sebagai berikut:
Kumkum Kelabu Papua
Pinon Imperial Pigeon - foto: Charles Roring

Kumkum Kelabu
Pinon Imperial Pigeon (Ducula pinon) di Bukit Aiwatar Kabupaten Tambrauw- Foto oleh Wim Boyden
Pinon Imperial Pigeon - warnanya abu-abu dan hidup di hutan dataran dan pegunungan rendah di Tanah Papua. Makanannya adalah buah-buahan yang ada di hutan. Masyarakat suka berburu burung kumkum karena dagingnya yang cukup lezat. Burung Kumkum kadang terlihat berpasangan di dahan-dahan pohon. Namun demikian burung ini sering berkumpul dalam kelompok besar ketika sedang makan  di sebuah pohon yang berbuah lebat. Ciri khas utamanya adalah adanya gari putih di ekor serta mata yang berwarna merah.
Burung kumkum laut dari Raja Ampat
Spice Imperial Pigeon

Spice Imperial Pigeon - sekilas bentuk dan warna burung ini mirip dengan Pinon Imperial Pigeon. Tetapi burung ini memiliki knob di atas paruhnya. Burung Spice Imperial Pigeon mudah dilihat di pulau-pulau kecil yang ada di Kepulauan Raja Ampat.
Kumkum Putih di Raja Ampat
Pied Imperial Pigeon di Waigeo

Pied Imperial Pigeon - saya sering melihat burung ini ketika bepergian ketika berada di Pulau Waigeo di Raja Ampat. Mereka sering makan buah di pepohonan di pinggir pantai dalam jumlah besar. Burung kumkum warnanya putih dengan tepian sayap berwarna hitam. Lokasi yang gampang dicapai untuk melihat burung ini adalah di Pantai Warduwer di sebelah selatan Waigeo.
Mountain Fruit Dove
Mountain Fruit Dove

Mountain Fruit Dove - saya memotret burung di atas ketika berada di Pegunungan Arfak. Thane K. Pratt dan Beehler et al dalam buku Birds of New Guinea atas pertimbangan ilmiah tertentu memisahkan spesies ini dengan White-bibbed Fruit Dove. 
Wisata Pengamatan Burung di Papua Barat
Brown Cuckoo Dove di Raja Ampat
Brown Cuckoo Dove - Kalau kita berjalan lebih jauh ke dalam hutan, burung ini akan kita jumpai. Burung ini bisa dijumpai di Kawasan Hutan Dataran hingga Pegunungan Rendah bahkan sampai di kawasan transisi ke hutan Pegunungan Tinggi terutama saat musim buah. Dalam buku Birds of New Guinea: including Bismark Archipelago and Bougainville karya Phil Gregory, spesies burung ini telah dipecah menjadi beberapa spesies sesuai dengan lokasi habitatnya di pulau-pulau yang berbeda. Sebagian orang mengatakan pemisahan (split) species burung tersebut agak dipaksakan.
Wisata Pengamatan Burung di Hutan Pegunungan Tambrauw
Great Cuckoo Dove - Foto: Wim Boyden
Great Cuckoo Dove (Reinwardtoena reinwardti) hidup di sebagian besar wilayah hutan Papua termasuk pulau-pulau di sekitarnya. Di dahan pohon yang sedang berbuah di pinggir sungai dan bahkan di pinggir laut, saya kerap melihatnya.
Cinnamon Ground Dove
Cinnamon Ground Dove di Pegunungan Arfak
Cinnamon Ground Dove (Gallicolumba rufigula) - Burung ini menurut IUCN masuk dalam status Least Concern, artinya populasinya cukup banyak. Namun demikian, burung ini tergolong sulit untuk dilihat dan dipotret oleh para wisatawan pengamat burung. Warna bulu yang coklat mirip tanah di punggung dan kepala menjadikannya agak sulit untuk dipotret. Foto di atas saya buat ketika memandu seorang wisatawan Amerika Serikat di hutan Gunung Soyti di Pegunungan Arfak.
Wompoo Fruit Dove - Burung ini termasuk yang paling indah warnanya dalam keluarga pigeon dan dove. Foto di atas saya ambil saat berada di hutan Tambrauw. Burung ini bersarang di dahan pohon yang cukup rendah dari tanah namun masih terlindung oleh dedaunan dan ranting-ranting. Saya berhasil mendapat celah untuk memotretnya dengan baik. Sarang yang relatif kecil dibandingkan tubuhnya nampak rentan terhadap serangan predator. Demikian pula, jika terjadi angin kencang, dahan bisa bergoyang kuat. Induk burung tetap setia mengerami telurnya.
Wompoo Fruit Dove
Wompoo Fruit Dove di Pegunungan Tambrauw
Salah satu hal yang membuat saya kagum dengan burung kumkum adalah kemampuan mereka untuk terbang cepat sekali menembus celah-celah dahan dan ranting pohon tanpa menambraknya.

Untuk sementara ini dulu ulasan saya tentang burung-burung dalam keluarga kumkum. Nanti saya tambah lagi di lain waktu. Ditulis oleh: Charles Roring

Also read:

Kisah 5 Wisatawan Belanda Naik Kapal Perintis ke Tambrauw

Salah satu cara murah untuk menikmati keindahan pesisir pantai Tambrauw adalah dengan naik kapal perintis. Saya pernah memandu wisatawan Belanda melihat kampung-kampung di pesisir pantai utara Tambrauw dengan naik KM Kasuari Pasifik 3. Sebelum berlayar, kami berbelanja bahan makanan terlebih dahulu di supermarket di Manokwari. Kami meninggalkan Pelabuhan Manokwari di sore hari. Sang nakhoda berbaik hati mengizinkan kamarnya untuk disewa oleh wisatawan yang jumlahnya 5 orang dari Negeri Belanda.
Sefa international in West Papua
Wisatawan Belanda di KM Kasuari Pasifik 3
Kapal tersebut singgah di Saukorem, Imbuan, Waibem, Wau, Warmandi, Saubeba, Kwor, Opmare, Werur, Sausapor, lalu ke Sorong.
Kapal tersebut menghabiskan waktu selama 2 - 3 jam di setiap persinggahan untuk menurunkan serta menaikkan barang dan penumpang. Umumnya kapal tidak sandar di pelabuhan tapi hanya berlabuh di laut. Wisatawan dan penumpang boleh turun ke darat dengan perahu-perahu motor milik warga kampung yang merapat di samping lambung kapal. ABK akan menurunkan tangga kapal untuk memudahkan naik- turunnya penumpang dan barang.
Wisatawan bisa memanfaatkan waktu kosong tersebut untuk keliling kampung, mandi di pantai, mancing ikan di buritan kapal atau memotret keindahan alam yang ada di daerah itu.
Traveling by ship along the northern coast of Papua Barat
Wisatawan Belanda mencoba rasa pinang

Kapal Kasuari Pasifik III yang membawa kami dengan ratusan penumpang lainnya tersebut ternyata sangat besar manfaatnya dalam meningkatkan putaran ekonomi di kampung-kampung pesisir Tambrauw. Rata-rata masyarakat membawa hasil bumi berupa pisang, kelapa, bijih kakao untuk dijual di kota Sorong. Ada yang menjualnya juga ke ABK untuk kemudian dijual lagi ke kota Sorong.
Warga masyarakat di pantai Saubeba dengan pisang dan kelapa sedang menunggu perahu motor untuk dimuat ke kapal.

Naik kapal perintis di Papua Barat
Wisatawan Belanda bersama para guru yang diperbantukan oleh pemerintah ke sekolah-sekolah di Kabupaten Tambrauw

Pegawai pemerintah, guru, mahasiswa juga memanfaatkan kapal tersebut. Harga tiket per orang dari Manokwari ke Sausapor sangatlah murah yaitu Rp. 50,000. Mungkin harganya telah naik sekarang, tetapi saya yakin bahwa hal tersebut masih terjangkau bagi masyarakat umum.

Berwisata ke Tambrauw di Papua Barat, wisatawan membeli hiasan manik-manik ikat kepala dan tas anyaman buatan seorang Mama Papua
Wisatawan Belanda sedang berpose bersama seniman Papua yang membuat hiasan manik-manik ikat kepala dan tas anyaman yang dikenakannya.

Selama berada dalam perjalanan, masyarakat dan ABK memperlakukan wisatawan dengan ramah. Wisatawan dan para penumpang lainnya saling berbagi bahan makanan, berbagi cerita dan berfoto bersama.
KM Kasuari Pasifik 3 memang bukan kapal mewah. Namun demikian kapalnya lumayan bersih ketika kami menaikinya.
KM. Kasuari Pasifik 3 yang sarat dengan muatan kelapa dan pisang untuk dijual ke Sorong

Setelah menikmati keindahan alam dan keramahan masyarakat Tambrauw, kami melanjutkan perjalanan ke Sorong dengan menaiki kapal penumpang kecil. Ini adalah pengalaman wisata yang indah dan murah serta bisa dinikmati oleh siapa saja yang berminat untuk liburan ke Tambrauw.
Semoga Pandemi Covid-19 ini segera berlalu sehingga aktivitas wisata bisa pulih kembali. Ditulis oleh Charles Roring

Baca juga:

Video tentang wisata nonton burung dan satwa liar di Tambrauw:

Jelajah Kawasan Pesisir Tambrauw

Kawasan pesisir dari Kabupaten Tambrauw, sama seperti daerah pegunungan, memiliki pemandangan yang indah sekali. Saya beberapa kali melintasinya baik dengan kapal maupun speedboat saat menemani wisatawan.
Wisatawan Selandia Baru di laut Papua Barat
Wisatawan Selandia Baru di perairan Tambrauw
Hutan hujan tropis yang ada di kawasan ini juga kaya dengan berbagai spesies hewan dan tumbuhan.


Di beberapa lokasi pantai, karena berhadapan langsung dengan lautan bebas, pada bulan-bulan tertentu yakni Desember, Januari, dan Februari, ombaknya cukup besar. Itu adalah saat yang tepat bagi pencinta olah raga selancar air untuk berkunjung ke Tambrauw.
Pada beberapa tempat tertentu dari pesisir pantai Kabupaten Tambrauw ada terumbu karang dengan air lautnya yang jernih. Ikan-ikan tropis dari ukuran kecil seperti Orange-skunk Anemonefish, Moorish Idol, Stripe Surgeonfish, parrotfish sampai yang berukuran besar seperti Humphead Wrasse bisa kita lihat saat menikmati aktivitas snorkeling.
Wisata Bahari di Sausapor
Terumbu karang di Perairan Tambrauw
Para wisatawan yang ingin snorkeling di pesisir pantai utara Tambrauw sebaiknya membawa kamera bawah air agar keindahan dunia bawah laut di daerah tersebut bisa dipotret atau direkam dalam bentuk video.
Untuk wisatawan yang ingin menghabiskan waktu selama beberapa hari mengunjungi kampung-kampung, hutan dan pantai di Tambrauw, sebaiknya menghubungi pramuwisata resmi dari DPC HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Cabang Kabupaten Tambrauw yang cukup mengerti kondisi alam dan budaya masyarakat setempat. Salah satu yang saya rekomendasikan adalah Bapak Anis Sundoi. Beliau tinggal di kota Sausapor dan dapat dihubungi lewat nomor hp: 085243497666.
Beliau bisa memandu para wisatawan pencinta alam untuk melihat berbagai hal yang menarik di kawasan pantai utara Tambrauw dari pesona alam seperti Weyos yang adalah habitat alami bagi berbagai satwa burung tropis; rusa, soa-soa, kuskus, penyu, hingga ke Pulau Dua dan Werur yang pada masa Perang Dunia II adalah pangkalan militer tentara sekutu.
Wisatawan Eropa di Pantai Werur
Ada cara murah meriah untuk menikmati keindahan pesisir pantai utara Tambrauw dengan harga yang sangat terjangkau. Wisatawan bisa naik kapal penumpang barang perintis yang berlayar antar Sorong dan Manokwari tetapi singgah di kampung-kampung yang ada di Kabupaten Tambrauw.
Wisata Bahari di Pantura Papua Barat
Meskipun rasanya sepat, wisatawan asing banyak yang penasaran dan ingin mencoba mengunyah sirih pinang kapur seperti yang dilakukan oleh wisatawan Belanda ini.

Sebelum melakukan perjalanan, ada baiknya wisatawan menghubungi pramuwisata HPI untuk mendapat informasi mengenai jadual kapal perintis yang akan berangkat dari Sorong atau Manokwari menuju Tambrauw. Hal ini penting karena dengan demikian wisatawan bisa merencanakan perjalanan liburannya ke Tambrauw dengan baik dan tidak tertahan terlalu lama di daerah itu.
Ini adalah perjalanan wisata petualangan yang sangat digemari oleh wisatawan karena mereka bisa melihat dari dekat kehidupan warga setempat dalam kesehariannya. Durasi perjalanan dari Manokwari adalah sekitar 3 hari hingga sampai di Sausapor (salah satu kota pesisir di kabupaten Tambrauw). Setelah tiba di kota Sausapor, perjalanan berikutnya bisa dilanjutkan ke daerah pedalaman dengan menggunakan kendaraan 4WD.
Saat ini, Pandemi Covid-19 masih berlangsung. Untuk sementara, perjalanan wisata ke Tambrauw terutama buat wisatawan asing belum bisa dilakukan. Ketika pandemi telah mereda dan sudah ada izin dari pemerintah, wisatawan internasional dan nasional bisa datang lagi ke Papua Barat. Ditulis oleh: Charles Roring

Baca juga:

Jelajah Gunung Sakofsiah dan Lembah Ases di Kabupaten Tambrauw

Gunung Sakofsiah dan Lembah Ases adalah habitat alami bagi berbagai spesies hewan dan tumbuhan Papua yang menarik untuk dilihat oleh wisatawan. Kedua tempat ini terletak di pedalaman Tambrauw sekitar 30 menit naik kendaraan 4WD dari Fef, ibukota Kabupaten Tambrauw.

Wisatawan Eropa di Papua Barat
Wisatawan Prancis di Distrik Ases, Kabupaten Tambrauw
Selama beberapa tahun belakangan ini wisatawan internasional mulai tertarik untuk berkunjung ke sana. Mereka menghabiskan waktu kira-kira 4 hari hingga 1 minggu di sana untuk menjelajah hutan, sungai dan daerah perbukitan yang ada di sana.
Wisatan Ceko di Gunung Sakofsiah
Wisatawan Ceko dan warga setempat di Gunung Sakofsiah, Kabupaten Tambrauw
Air di Sungai Ases jernih sekali. Ada banyak ikan yang bisa dijumpai di sana. Saat berjalan menyusuri tepian sungai, wisatawan bisa melihat berbagai spesies burung seperti kakaktua putih, kakaktua raja, taun-taun, nuri kepala hitam, raja udang paruh kuning, rufous-bellied kookaburra, kumkum, jagal papua, mino muka kuning, mina emas, pitta perut merah, pitta kepala hitam, dan masih banyak lagi. 
Pohon-pohon besar yang tumbuh di Pegunungan Sakofsiah dan Lembah Ases kerap dihinggapi burung New Guinea Vulturine Parrot, serta New Guinea Harpy Eagle. 
Wisatawan Amerika di Lembah Ases Pegunungan Tambrauw
Wisatawan Amerika Serikat di Lembah Ases
Rata-rata wisatawan yang pergi ke Lembah Ases membawa binocular dan kamera telefoto. Mereka bisa memotret burung surga yang berdansa di cabang-cabang pohon di pagi dan sore hari. 
Aktivitas penjelajahan hutan dilakukan pula di malam hari untuk melihat katak-katak besar di pinggir kali, ular, dan rusa.  Kuskus pohon, tupai terbang serta kelelawar sering dijumpai di Ases. Ada tempat-tempat khusus yang tidak jauh dari Kampung Ases di mana wisatawan bisa pergi guna melihat rusa, dan wallaby yang datang untuk minum air. Di sana ada beberapa mata air kecil yang kerap dikunjungi hewan mamalia. Warga setempat menyebutnya viem.


Selama wisatawan berlibur di Lembah Ases dan Gunung Sakofsiah, para wisatawan ini dilayani oleh warga setempat yang bekerja memandu mereka di hutan, maupun memasak serta menyajikan makanan di pagi, siang, hingga malam hari.
Para pramuwisata yang ada di Kabupaten Tambrauw sekarang sudah ada wadah atau organisasinya. Namanya DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia Kabupaten Tambrauw. Ketuanya pada  saat ini adalah Nico Nauw. Jika Anda tertarik untuk berlibur ke Gunung Sakofsiah dan Lembah Ases di Pegunungan Tambrauw, silahkan menghubungi beliau lewat nomor ponsel: 082198060084.
Hutan hujan tropis yang ada di Kabupaten Tambrauw ini masih dalam kondisi baik. Para wisatawan tersebut sangat terkesan dengan keindahan alam pegunungan, dan lembah sekaligus keanekaragaman hayati yang bisa dilihat di Gunung Sakofsiah dan Lembah Ases. Mereka berkata akan memberitahu teman-teman yang lain supaya ada yang tertarik untuk berkunjung ke Tambrauw. Di tulis oleh Charles Roring

Baca juga:
English:


Slideshow of Bird Pictures from West Papua

The tropical rainforest of West Papua is very rich of birdlife. As a tourist guide, I often guide visitors to lowland and higher montane forests. We travel to various areas in this province to watch and take pictures of birds of paradise and other tropical birds. In the past, I used Nikon Coolpix P500 and Fujifilm HS50EXR. Now I use Canon 200D with Tamron 150-600mm lens.
birding in malagufuk



Birding in West Papua of Indonesia
Red Bird of Paradise
Most of the pictures were published in my blogs and websites as well as my facebook naturelife page and personal accounts.
In this slideshow, I reused the photographs again and added them with my newest pictures. After adding transitional effects and instrumental music to the slideshow, I published it on youtube.


Birds play very important role in the ecosystem of rainforest. They disperse seed, they provide fertilizer through the poops that they release everyday and they do pest control by eating insects, small mammals and reptiles in the forest.
Birding or birdwatching tourism in West Papua grew well before the Covid-19 pandemic. It stopped suddenly when government did not allow foreign tourists to travel into Indonesia. Government plan to allow foreign tourists to visit this country again in 2021.
I hope that the above slideshow of Birding in West Papua will attract interest of anyone who watches it so that he or she will be interested in traveling to this beautiful island.
If you are interested in traveling to West Papua and want me to guide you and organize your tour, please, contact me Charles Roring by email to: peace4wp@gmail.com or by whatsapp to: +6281332245180.

Slideshow of Birds in Arfak Mountains of Manokwari

Here is a short slideshow of some of the birds that can be watched in Arfak mountains.


I used Canon 200D with 150-600mm Tamron G2 lens and Fujifilm HS50EXR to make the above bird photos.
For nature lovers and avid birders, Arfak mountains are very good destination not only for watching birds but also for seeing beautiful scenery and unique culture of the indigenous Papuan people.
There are two big lakes in the mountain range i.e. Anggi Giji and Anggi Gida. They are located at around 2,000 meters above sea levels. Colorful flowers can be seen growing around their slopes.
Traveling to Manokwari and sightseeing in Anggi lakes
Anggi Gida Lake in Arfak mountains
According to the website of Papua Insects Foundation, Prince Leopold and Princess Astrid from Belgium used to visit the Arfak mountains and the lakes in 1929.

A Visit to Raimuti island in Manokwari Papua

Last January three Russian tourists visited Raimuti island. It was the smallest island in the Dorey bay of Manokwari Papua. These Russian tourists were Mikhail, Dima and Inga. They spent two weeks hiking around Table Mountain, the Mansinam island, and then they went snorkeling and fishing in the Raimuti island.
According to their opinion, Raimuti was a small but beautiful place. It was located near Arfai beach, only around two hundred meters from the main Papua land. There were some mangrove trees growing in the island. These vegetations helped prevent the island from erosion that could eliminate the whole island from Papua map.

Fortunately, not many people visits the island, that's why it still exists until now.
Raimuti has been used by fishermen as a resting place or as a place to find fish bait.
Traveling and snorkeling in Manokwari

A friend of mine, an indigenous Papuan said that there is a sunken warplane wreck around the waters of the Raimuti island. Unfortunately, he did not mention the exact location of the planewreck. The island is also surrounded by coral reef which is an important habitat for fish and other marine creatures.
If you are interested in visiting the island, you can hire a boat that belongs to the fishermen at Arfai beach. Usually its cost is Rp. 100,000 per day. I suggest that you bargain to get the suitable price. Don't forget to bring your own gear if you want to scuba dive around Raimuti, Lemon, and Mansinam islands.
Traveling to Manokwari
Russian tourist

Wooden Boats in the Dorey bay of Manokwari

Wooden boats, similar to modern seagoing steel ships, are used to transport goods and people from one port to another. In the Dorey bay of Manokwari city, I saw some traditional wooden boats in a small jetty in Anggrem area during my walking tour yesterday afternoon. The hull and superstructure of one of the boats are painted with white and yellow coatings. On the average, the boats are powered by 200 horse power marine diesel engine and conventional three or four blades propellers. I was able to climb its top deck and took some photos of other boats around the area. There was a steel ship belonged to the local government. I know that it has been used as ferry connecting small coastal villages in the northern region of Papua island. Although the boats were constructed using traditional tools, they are quite safe and stable to sail across the sea.
When we are talking about traditional wooden boats design and building in Papua, we cannot categorized them as cargo ships and passenger ships. The decks where cargoes are stored are also used to carry passengers. I am doubtful if the crews or operators of these boats provide life-jackets to all the passengers and crews on board.
I went there with a friend of mine. On the other side, I saw the former shipyard built by a Dutch shipbuilding company.  Formerly known as Manokwari Scheepswerf Konijnenburg. Now it is called Fasharkan (Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan or the Facility for the Maintenance and Repair). I am sad to tell you that it not working anymore. The expensive slipway and the shipbuilding facilities left by the Dutch  are  not developed or operated by the Indonesian government anymore. 
We talked with the some of crews of the boats. I asked them how much does it cost to go from Manokwari to Wasior. They said the ticket is Rp. 100,000 or around 11.3 US dollars. I requested this information because I want to get the exact ticket price for Wasior. a small town which now becomes the capital of Wondama Bay Regency. This regency has a large sea area which has been preserved by the government as the National Marine Park of Cendrawasih bay, one of the best coral reefs and scuba diving sites in the world.
From Wasior, tourists or scuba divers can hire another boat or small outrigger boats to continue their trip to Auri islands where they can do snorkeling and scuba diving there.
Most of the big islands of Indonesian archipelago have their own techniques in building traditional wooden boats. In Maluku, a small village that is famous for building boats is Asilulu. In North Sulawesi, villagers of Tanawangko are expert in building big boats that can carry up to one hundred passengers and several tons of cargoes. In South Sulawesi, we know famous names of Bulukumba or Tanjung Bira. People there are world class boat builders. This was written by Charles Roring.