Translate

Jelajah Pesisir Manokwari dengan Wisatawan Belanda

Ikan Nemo dan Ikan Tiga Spot Dascyllus
Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan untuk menemani 4 wisatawan Belanda untuk melihat keindahan alam pesisir kota Manokwari. Kami mulai di pagi hari pada jam 09.00 dari Hotel Triton. Dengan naik ojek, kami berangkat menuju Pantai Aipiri yang terletak di sebelah utara kota. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 15 menit. Ketika tiba di lokasi suasana kampung Aipiri masih sunyi. Kami mulai menyusuri kawasan pesisir pantai dengan berjalan kaki. Jalanan yang kami lalui tidaklah beraspal dan banyak ditumbuhi oleh semak belukar. Sekali-sekali terdengar suara burung di pepohonan. Ada juga kupu-kupu kecil yang menghisap nektar bunga-bunga liar yang tumbuh di kedua sisi jalan. Setelah berjalan kurang lebih 15 menit, jalan yang tadinya rata mulai berubah mendaki. Kemiringannya agak terjal dan licin ditumbuhi lumut. Mungkin sudah lama tidak digunakan. Kendaraan roda empat seperti Toyota Avanza atau Inova yang mau lewat sini pasti tidak bisa tembus.
Di kedua sisi jalan, warga kampung Aipiri menanam pepaya, pisang, mangga, dan tanaman pertanian lainnya. Kami terus berjalan hingga dipuncaknya. Dari kejauhan nampak Samudra Pasifik yang saat itu lautnya sedang teduh. Saat menuruni bukit, jalannya rusak berat. Untung saja kami tidak sedang naik kendaraan bermotor sehingga tidak mengalami kesulitan berarti saat melewatinya. Hanya kendaraan 4wd (four wheel drive) seperti Toyota Hilux, Mitsubishi Triton atau Ford Ranger yang bisa menjelajahi dengan kondisi terjal dan rusak seperti ini.
Tak lama kemudian kami lewat di kawasan perkebunan kelapa. Pohonnya sudah tinggi sekali dan perlu peremajaan. Setelah itu kami memasuki wilayah kampung bakaro yang terletak di sebuah teluk berair tenang. Kampung ini terkenal dengan obyek wisata pemanggilan ikan.
Kami berjalan menuju pantai Bakaro. Para wisatawan Belanda yang masih muda itu mengganti pakaian mereka dengan baju renang dan langsung berjalan ke laut. Mereka berenang dan snorkeling. Saya bergabung dengan mereka kira-kira 1 jam kemudian setelah peralatan snorkeling yang saya pesan tiba. Ada 3 buah peralatan snorkeling yang tersedia di dalam tas milik saya tersebut. Para wisatawan Belanda tersebut mengikuti saya berenang ke kawasan terumbu karang. Ada ikan striped-surgeonfish, butterflyfish, parrotfish, damsel dan berbagai ikan laut lainnya yang kami lihat saat berenang di Pantai Bakaro.
Saya membawa kamera bawah laut Nikon AW 130. Saya kemudian menyelam hingga ke kedalaman sekitar 2 meter untuk memotret ikan-ikan itu. Spesies nemo yang saya lihat di terumbu karang Bakaro adalah Red and Black Anemonefish. Ada juga ikan Three-spots Dascyllus yang hidup berdampingan dengan nemo-nemo itu.
Bersama Wisatawan Belanda
Di siang hari, kami beristirahat dengan minum air putih dan makan biskuit. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan kami ke Pulau Mansinam dengan taksi air. Selama berada di pulau itu kami melihat monumen pendaratan Ottow Geissler yang terletak di pinggir pantai. Saya memberikan sedikit penjelasan tentang bagaimana para utusan Zending berlayar dari Belanda hingga tiba di Pulau Mansinam. Kamimjuga berjalan kami hingga ke puncak pulau yang ada patung Yesus. Setelah itu kami ke pantai Air Salobar. Teriknya matahari membuat kulit para wisatawan Belanda itu memerah. Saya bertanya pada mereka apakah sudah mengoleskan sun-block lotion di kulit mereka. Para wisatawan itu menjawab ya. Namun mereka tidak yakin bahwa lotion itu cukup efektif melindungi kulit orang Eropa yang lebih sensitif terhadap sinar matahari.
Ketika hari sudah sore, kami kembali lagi ke hotel Triton. Perjalanan sore itu sangat menyenangkan buat para wisatawan Belanda tersebut. Saya pun mengucapkan selamat tinggal pada mereka dan pulang ke rumah. Keesokan harinya, para wisatawan Belanda itu melanjutkan perjalanan wisata mereka ke kota lain dengan naik pesawat.
Wisata Nonton Burung Surga di Hutan Papua
Naik Sepeda Motor Keliling Kaimana
Bersepeda di Bali

No comments:

Post a Comment