Translate

Selancar Air di Manokwari

Selancar air di Manokwari
Selancar adalah olah raga air yang sangat menantang dan berbahaya. Selain memerlukan ketrampilan, pengetahuan atas ombak, dan keseimbangan khusus untuk berdiri di atas papan luncur, peselancar harus berani menghadapi ombak yang besar. Hal ini sangat tidak bisa dilakukan oleh siapa saja. Untuk menjadi peselancar yang mahir, seseorang harus berlatih selama berjam-jam hingga beberapa minggu.
Di Manokwari - ibukota Provinsi Papua Barat, anak-anak Papua yang tinggal di Pantai Abasi sudah terbiasa berenang di laut dengan ombak yang tinggi. Banyak di antaranya yang memanfaatkan papan kayu untuk berselancar. Pada suatu hari, kegiatan mereka untuk berselancar dengan papan yang sederhana tersebut menarik perhatian wisatawan asing yang suka dengan selancar air. Sejak saat itu, satu atau dua orang di antaranya mendapat bantuan papan selancar standar yang terbuat dari foam dan fiberglass.
Para peselancar di Pantai Abasi
Para pemuda peselancar di Abasi
Dengan berlalunya waktu, anak-anak Papua di Abasi kemudian bertemu dengan Salo Rumadas, seorang pengusaha Papua yang juga suka dengan olahraga selancar air. Atas inisiatif Salo, anak-anak dan pemuda di Abasi tersebut akhirnya mendapat sumbangan papan selancar darinya. Sekarang, mereka bisa berselancar dengan menggunakan papan standard yang umumnya dipakai para peselancar dari luar negeri. Mereka lalu membentuk sebuah perkumpulan kecil yang diberi nama Abasi Klub Surfing. Kegiatan-kegiatan mereka bisa dilihat di blog abasiklubsurfing.blogspot.com. 
Brazil wave surfer Alberto Castro
Peselancar Asing di Manokwari
Bulan Februari hingga Maret, beberapa tahun lalu, para peselancar air dari beberapa negara berkunjung ke Manokwari. Mereka adalah sebuah tim selancar dari SurfExplore yang sudah lama bergelut di bidang selancar air. Kehadiran tim selancar internasional ini menambah kepercayaan diri anak-anak Papua di pantai Abasi yang tentu saja mendapat tambahan pengetahuan setelah melihat para peselancar kelas dunia tersebut bermain dengan ombak-ombak besar dari Lautan Pasifik. 
Kedatangan tim selancar air dari SurfExplore tersebut (John Callahan - Amerika Serikat; Phil Goodrich - Amerika Serikat; Hayato Maki - Jepang; Alberto L Castro - Brazil dan Emiliano Cataldi - Italia) sangat berharga di mata para anggota Abasi Klub Surfing karena mereka membantu mengangkat nama Manokwari sebagai destinasi baru untuk para peselancar air dunia. 
Selain selancar air, Manokwari adalah destinasi penting untuk wisatawan asing yang ingin menjelajah hutan hujan tropis di Pegunungan Arfak dan Pegunungan Tambrauw untuk mengamati burung surga, burung pintar, atau ingin melakukan kegiatan snorkeling di Teluk Dore dan daerah-daerah di sekitarnya.
Para pelancong yang datang ke Manokwari dan menikmati liburannya di sini bisa menginap di sejumlah hotel yang dibangun di dalam kota. Wisatawan dengan dana yang terbatas pula menginap rumah-rumah sederhana milik masyarakat setempat yang tinggal di Pantai Abasi. Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi Abasi Klub Surfing akan membangun rumah tamu untuk wisatawan surfing guna membantu mereka tetap dekat dengan lokasi selancar sehingga biaya transportasi yang harus mereka keluarkan setiap hari bisa ditekan serendah mungkin. Abasi Klub Surfing bisa membantu wisatawan yang ingin menyewa sepeda motor Honda atau kendaraan bermotor beroda 4 seperti Toyota Hilux dengan harga yang terjangkau.
Sarana telekomunikasi di kota ini cukup memadai. Ada beberapa internet cafe yang bisa dimanfaatkan oleh wisatawan. Jaringan telepon celuler juga telah menjangkau sebagian besar wilayah kota dan sebagian kawasan pantai utara yang menjadi obyek wisata surfing. Para pemakai telpon genggam menggunakan SIM Card Simpati dan As yang harganya murah dan dapat diandalkan. Sejumlah hotel di kota ini menyediakan fasilitas internet WIFI. Telkomsel Flash dapat pula dimanfaatkan oleh para pengguna laptop yang ingin segera meng-upload foto-foto surfing yang mereka buat untuk dibagikan kepada teman-teman mereka yang ada di media sosial seperti Facebook.
Jika Anda berminat menikmati atau belajar selancar air di Manokwari, silahkan berkunjung ke Pantai Abasi di sebelah timur kota ini. Biasanya, musim ombak dimulai pada akhir Oktober hingga sekitar bulan Maret. Di samping menikmati olah raga air ini, wisatawan bisa juga menikmati aktivitas lain seperti snorkeling, dan juga jalan-jalan melihat hutan dan burung-burung tropis yang indah warnanya dan merdu kicauannya. Ditulis oleh Charles Roring
Baca juga:

Panorama Gunung Botak Yang Memukau

Wisata Alam di Papua Barat
Oma Gertraud bersama dua tukang ojek di Gunung Botak
Seorang Oma dari Jerman yang bernama Gertraud mengirim e-mail dan meminta saya mengantarnya melihat beberapa kampung di sekitar Manokwari sehingga dia bisa bertemu penduduk asli Papua. Sewaktu masih sekolah dulu, Oma Gertraud sering diceritakan oleh gurunya tentang pemandangan Papua yang indah sekali dan keramahan penduduknya. Gurunya Oma Gertraud itu pernah tinggal lama di Papua. Sayang sekali saya lupa menanyakan nama dari guru itu.
Ketika tiba di Manokwari, saya pun mengantar Oma Gertraud ke Ransiki. Kami naik kendaraan umum yang mengantar kami melewati kawasan pesisir sebelah timur Pegunungan Arfak. Di sebelah kiri kami adalah tebing-tebing yang curam dengan pemandangan lautan biru yang menakjubkan. Sementara itu di kanan adalah Pegunungan Arfak yang terjal dan gagah perkasa, tempat burung-burung surga berdansa di dahan-dahan pohon di pagi hari.
Setelah tiba di kota Ransiki, saya segera mencari 2 tukang ojek yang bersedia membawa kami ke Gunung Botak. Masing-masingnya meminta 100 ribu rupiah. Kendaraan yang akan kami tumpangi ke sana adalah satu buah sepeda motor merek Honda Revo dan sepeda motor 2 tak merek Yamaha. Sebelum berangkat, kami singgah sebentar di sebuah warung yang menjual bensin. Tak lama kemudian, perjalanan ke Gunung Botak dimulai. Kami melewati Distrik Momi Waren dengan kampung-kampungnya yang berjejer di kedua sisi jalan. Sesekali kami melihat anak-anak Papua yang bermain di halaman rumah. Ada yang melambaikan tangan mereka kepada kami. 
Ekowisata di Manokwari Selatan
Panorama Gunung Botak yang indah Sekali
Dari penuturan seorang tua bapak Jan Manusawai di Manokwari, bahwa sebelum  masa Perang Pasifik, daerah ini dikuasai oleh para petani Jepang. Mereka menanam tanaman jute yang memiliki serat yang panjang dan kuat. Tiba-tiba saja sebelum Perang Pasifik pecah, mereka pulang ke negaranya. Kini tanaman serat jute yang berguna dan memiliki nilai ekonomis pembuatan tali maupun industri kertas terbengkalai begitu saja di sana.
Dua sepeda motor yang dikendarai oleh dua tukang ojek Papua ini melaju menyusuri jalan beraspal yang berlobang-lobang. Anak-anak muda ini lincah sekali. Sayang sekali, ketika hampir sampai di Gunung Botak, salah satu motor tiba-tiba mogok. Setelah memeriksa isi tangkinya, ternyata bahan bakarnya sudah habis. Maklum motor dua tak meskipun dapat berlari kencang, ternyata sangat boros bahan bakar. Salah satu kawannya, kembali ke kampung terdekat untuk membeli bahan bakar. Hari sudah sore ketika dia kembali dan kami pun bisa melanjutkan perjalanan ke Gunung Botak. Mengapa disebut Gunung Botak? Seperti yang tampak pada foto-foto di artikel ini, sebagian besar permukaannya tidak ditumbuhi pepohonan.
Kami berhenti di sebuah tanjung untuk mengambil gambar pemandangan pegunungan, teluk dan perairan yang indah sekali. Panorama Gunung Botak di daerah Manokwari Selatan ini indah sekali dan layak dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. 
Hasil tangkapan ikan wargga nelayan
Anak-anak Papua yang baru saja kembali dari laut setelah memancing ikan
Beberapa kali Oma Gertraud berdiri bersama dengan tukang ojek itu dan beberapa anak muda Papua yang baru saja pulang dari laut untuk menangkap ikan. Mereka senang difoto bersama Oma Gertraud. Langit mulai ditutupi awan tebal pertanda sebentar lagi hujan lebat segera turun. 
Saya segera memasukkan kamera digital Nikon Coolpix P500 ke dalam tas dan menyelubunginya lagi dengan kantong plastik agar tidak dirusaki oleh air hujan. Kami pun kembali dan tiba di Ransiki di malam hari.
Ingin Jalan-jalan ke Gunung Botak?
Gunung Botak yang indah ini terletak di tepi Teluk Cendrawasih yang indah sekali pemandangannya. Selain menikmati pemandangan, Anda bisa berenang dan snorkeling di sana. Kalau Anda tertarik ke Gunung Botak, terbanglah ke kota Manokwari. Cara yang paling murah adalah dengan naik kapal PELNI. Setelah itu, naiklah kendaraan umum (harganya kira-kira Rp. 50.000/orang) yang akan membawa Anda ke kota Ransiki. Sesampainya di sana carilah tukang ojek (antara Rp. 200 ribu hingga 250 ribu per orang) yang akan mengantar Anda ke Gunung Botak. Di kota Ransiki ada penginapan yang harganya cukup terjangkau (kurang lebih Rp. 300 ribu/malam). 
Masih bingung dan perlu tambahan info? Silahkan hubungi saya lewat email: peace4wp@gmail.com

Naik Sepeda Motor Keliling Kaimana

Kaimana adalah sebuah kota kecil di Pantai Selatan Papua. Kota ini terkenal dengan sebutan kota senja. Memanjang dari Barat ke Tenggara, Kaimana bisa dijelajahi dalam waktu satu hari penuh. Cara termurah untuk melihat pemandangan Kota Kaimana yang terdiri dari pantai yang dikepung gunung batu adalah dengan naik sepeda motor.
Sewaktu berada di sana, saya bepergian dengan sepeda motor Honda Supra X yang hemat bahan bakar, kami menjelajahi wilayah pinggiran kota Kaimana hingga ke Kilometer 14. Sepeda motor tetap stabil melesat di jalan sempit bergunung hingga saya tiba di sebuah jembatan yang airnya berwarna biru kehijauan (turquoise). Saya berhenti agak lama di sini. Berjalan menelusuri jembatan kayu yang beberapa papannya telah rapuh menuntut kehati-hatian ekstra. 
Sungai di Kilometer 14 Kaimana
Pemandangan Sungai dan hutan di Kilometer 14, Kaimana, Papua Barat
Keindahan alam hutan hujan tropis dan sungai di Kilometr 14 membuat saya terdiam lama mengaguminya. Terus terang saja, saya sungguh jatuh cinta pada kota ini. Diam-diam dalam hati, saya berkata bahwa kalau sampai saya punya cukup uang maka saya akan pindah di kota ini.
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih satu setengah jam melihat pemandangan Kilometer 14 dan beberapa kali melihat burung taun-taun, burung nuri serta kakaktua terbang di udara, saya melanjutkan perjalanan ke Tanggaromi. Daerah ini terletak di sebelah Barat Laut dari Kota Kaimana. Di sana, saya melihat perahu-perahu motor yang keluar masuk Teluk Arguni. Sekali lagi, pemandangan alam di Teluk Arguni ini begitu indah.  Sesudah itu, saya kembali ke kota Kaimana. Di sepanjang jalan, hujan turun dengan derasnya. Saya sempat berteduh sebentar di rumah seorang petani sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan dan tiba di penginapan di sore hari. Kota Kaimana bisa pula dijelajahi dengan naik sepeda gunung (mountain bike). Saya sarankan para wisatawan memakai jenis sepeda gunung dengan gigi depan 3 buah dan gigi belakang antara 7 sampai 9 buah. Sepeda buatan Wim Cycle, dan Polygon sangat cocok untuk Papua.
Orang kampung naik perahu motor ke dalam kampung di Teluk Arguni
Perahu menuju Teluk Arguni di Pelabuhan Tanggaromi - Kaimana
Kota kecil Kaimana yang begitu menawan hati ini tidak sulit dijangkau. Setiap minggu ada kapal PELNI yang singgah di Kaimana dan setiap hari ada pesawat Wings Air yang melayani rute penerbangan dari dan ke Kaimana. Wisatawan yang tinggal di Pulau Jawa, bisa naik Lion Air ke Makassar dan Ambon, untuk selanjutnya ditransfer ke pesawat Wings Air yang akan mengantar mereka ke Fakfak dan akhirnya mendarat di Kaimana.
Saya suka sekali menikmati hidangan ikan bakar di Rumah Makan Daeng pada siang hari. Di malam hari, beraneka-ragam makanan seafood ditawarkan oleh para pemilik warung tenda di kawasan reklamasi di dekat pelabuhan. Ditulis oleh Charles Roring